Yogyakarta Gamelan Festival ke-31: Grup Kote’an dari Prancis Hadirkan Sukacita
- jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Gelaran Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-31 tahun ini menghadirkan kejutan istimewa dengan tampilnya komunitas gamelan asal Prancis bernama Grup Kote’an yang berdomisili di Lyon. Komunitas ini memiliki konsentrasi pada gamelan Bali dan demi tampil di Indonesia mereka rela membeli satu set gamelan kebyar Bali khusus untuk konser YGF 31, meskipun sebenarnya mereka sudah memiliki gamelan di Prancis. Keputusan tersebut menjadi bukti komitmen luar biasa dalam merayakan gamelan sebagai bahasa universal. Salah satu karya mereka akan dipentaskan di konser puncak festival, menjadikan momen ini sebagai tonggak penting dalam sejarah pertunjukan gamelan internasional.
Kurator YGF 31, Sudaryanto saat jumpa pers di Loman Park Hotel, Senin (20/07/2027) menyampaikan bahwa selain komunitas gamelan dari Prancis, juga akan hadir seniman dari Belanda. Kehadiran seniman mancanegara ini memperkuat nuansa lintas budaya yang selalu menjadi ciri khas YGF. Kolaborasi internasional tersebut tidak hanya memperkaya eksplorasi artistik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana gamelan mampu menembus batas geografis dan menjadi medium kebersamaan global.
Ketua Komunitas Gayam 16, Ari Wulu, menegaskan bahwa YGF telah berkembang menjadi ruang kolaborasi lintas budaya yang mempertemukan seniman gamelan dari Indonesia maupun mancanegara. Selama lebih dari tiga dekade, festival ini menjadi wadah untuk menjaga relevansi gamelan di tengah perkembangan zaman sekaligus membuka ruang eksplorasi artistik baru. Menurutnya, gamelan bukan hanya tradisi yang harus dilestarikan, tetapi juga medium kreatif yang terus hidup dan beradaptasi dengan dinamika global.
Ketua YGF 31, Lanoke Uke, menekankan bahwa acara yang digelar 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 ini mengambil tema “Sukacita” tahun ini dimaknai sebagai kegembiraan yang lebih dalam, bukan sekadar hingar-bingar. Menurutnya, YGF yang telah berusia 31 tahun kini berada pada fase kedewasaan, seperti manusia yang mulai mencari bentuk kebahagiaan yang lebih tenang. “Tema bersenang-senang itu kami kerucutkan lagi menjadi bersukacita atau joy yang kami maknai sebagai kegembiraan yang berasal dari dalam. Spirit gamelan yang kami ambil adalah harmoni, kebersamaan, dan keberagaman yang dirayakan bersama-sama,” jelasnya.