Program Rumah Layak Pemkot Yogya, Lengkapi Akses Air Bersih

Perbaikan rumah tidak layak huni Kota Yogya dengan semangat gotong royong.
Sumber :
  • Dok Pemkot Yogya

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta kembali melanjutkan program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) dengan semangat gotong royong. Kali ini, tiga rumah warga di Kelurahan Brontokusuman, Mergangsan, menjadi sasaran perbaikan, yakni rumah milik Hardinah, Isgianto, dan Saroh. Program ini menandai perbaikan ke-69, ke-70, dan ke-71 sepanjang tahun 2026, dengan dukungan dana dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Yogyakarta sebesar Rp20 juta untuk setiap rumah.

Pelaksanaan program tidak hanya melibatkan Baznas, tetapi juga didukung oleh sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pendamping, seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Sekretariat DPRD Kota Yogyakarta (Setwan), serta swadaya masyarakat. Kolaborasi lintas pihak ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam pembangunan sosial di Yogyakarta.

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa Pemkot menargetkan sebanyak 200 rumah tidak layak huni dapat diperbaiki sepanjang tahun 2026. Menariknya, target tersebut diupayakan tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan melalui kerja sama berbagai pihak. “Target kita tahun ini 200 rumah. Ini kita lakukan tanpa APBD, tetapi dengan gotong royong. Ada Baznas, OPD pendamping, dan masyarakat yang bersama-sama membantu,” ujarnya.

Menurut Hasto, perbaikan RTLH tidak hanya bertujuan menghadirkan rumah yang lebih nyaman dan aman, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan penghuni. Ketersediaan sanitasi dan akses air bersih menjadi faktor penting dalam menciptakan hunian sehat. Ia menekankan bahwa rumah layak huni harus mampu mendukung kualitas hidup penghuninya, bukan sekadar tempat berteduh.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga menyoroti pentingnya akses air perpipaan di kawasan perkotaan. Ia menyampaikan rencana pribadi untuk membantu pemasangan layanan PDAM bagi penerima manfaat sekaligus menanggung biaya langganan selama satu tahun. “Akses air perpipaan ini penting karena sumur di perkotaan kualitas airnya kurang bagus dan ada risiko tercemar bakteri E. coli,” jelasnya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan warga sekaligus mengurangi risiko penyakit akibat air yang tidak layak konsumsi.