Jurnalisme Multiplatform Jadi Kunci Bertahan di Era Media Sosial, Etika Tetap Prioritas
- Viva Jogja
VIVA Jogja –Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat mendorong dunia jurnalistik memasuki babak baru.
Di tengah semakin dominannya media sosial sebagai sumber berita, jurnalis tidak lagi cukup hanya menguasai satu format pemberitaan.
Kemampuan menghasilkan konten lintas platform dengan tetap menjunjung tinggi etika menjadi kunci agar jurnalisme berkualitas tetap relevan di era digital.
Media Sosial Jadi Sumber Informasi Utama
Mantan Pemred Kumparan, Arifin Asydhad, mengungkapkan bahwa perubahan perilaku audiens menjadi tantangan besar bagi industri media.
Dalam materi bertajuk Jurnalisme Berkualitas dengan Perspektif Multiplatform pada pelatihan Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2026 kolaborasi Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bersama Tower Bersama Infrastruktur Grup (TBIG), Senin (22/6/2026), ia mengajak insan pers melihat kembali bagaimana masyarakat kini mengonsumsi informasi.
Data Reuters Institute 2026 menunjukkan, sebanyak 30 persen masyarakat di 22 negara menjadikan media sosial dan platform video sebagai sumber utama berita, meningkat dari 22 persen lima tahun sebelumnya.
Di Indonesia, angkanya bahkan mencapai 48 persen atau berada di atas rata-rata global.
Kondisi tersebut membuat media massa harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik.
Semua Orang Bisa Membuat Konten, Tetapi Tidak Semua Menjalankan Jurnalisme
Arifin menjelaskan bahwa saat ini siapa pun dapat menjadi penyampai informasi karena kemudahan membuat akun maupun memproduksi konten yang berpotensi viral.
Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan tantangan berupa meningkatnya disinformasi dan misinformasi karena tidak semua pembuat konten terikat pada etika jurnalistik maupun Undang-Undang Pers.
Di sisi lain, industri media juga menghadapi tantangan internal, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa sejumlah jurnalis.
Meski demikian, Arifin menegaskan masih terdapat ruang bagi profesi jurnalis untuk terus berkembang apabila mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Jurnalis Multitalenta Menjadi Kebutuhan
Menurut Arifin, keterampilan jurnalis kini tidak lagi dapat dibatasi hanya pada kemampuan menulis, memproduksi video, atau membuat konten audio secara terpisah.
Seorang jurnalis dituntut menjadi multitalenta yang mampu menghasilkan berbagai format konten sesuai karakter masing-masing platform.
“Skill jurnalis tidak lagi terkotak-kotakan sebagai jurnalis teks, video, atau audio. Namun, kemampuan berkembang menjadi jurnalis yang multitalenta," ujarnya.