Generasi Muda Yogyakarta Didorong Capai Kemandirian Finansial Sejak Dini

Walikota Yogyakarta, Dr (H.C.) dr H Hasto Wardoyo, saat berbicara di UMY
Sumber :
  • Dok Humas UMY

BANTUL, VIVA Jogya – Tantangan dunia kerja di era kompetitif tidak lagi hanya ditentukan oleh prestasi akademik semata. Kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, serta keberanian mengembangkan diri kini menjadi faktor penting dalam membangun karier sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih mapan. Hal tersebut ditegaskan Walikota Yogyakarta, Dr (H.C.) dr H Hasto Wardoyo, saat berbicara di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam Seminar Career Development bertajuk The Professional Compass: Navigating Mental Wellness and Career Survival yang digelar di Kampus UMY, Sabtu (27/06/2026).

img_title Program Makan Bergizi Gratis Dorong Kenaikan Harga Ayam dan Telur

Dalam kesempatan itu, Hasto mengajak mahasiswa untuk menargetkan kebebasan finansial sebelum memasuki usia 50 tahun. Menurutnya, target tersebut semakin relevan karena Daerah Istimewa Yogyakarta mulai memasuki fase aging population atau penuaan penduduk. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi apabila generasi muda tidak mempersiapkan diri sejak dini. “Harusnya sebelum usia 50 tahun itu sudah bebas finansial. Tidak lagi memikirkan makan hari ini, besok, atau lusa. Semua itu seharusnya sudah selesai,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa kebebasan finansial bukan berarti memiliki kekayaan melimpah, melainkan kemampuan memiliki sumber pendapatan pasif yang menopang kebutuhan hidup tanpa bergantung sepenuhnya pada pekerjaan aktif. Dengan demikian, mahasiswa perlu menyiapkan strategi sejak dini agar tidak terjebak dalam ketergantungan finansial di usia produktif.

img_title Optimisme Kerja Menurun, Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

Hasto juga menyoroti ketimpangan antara bekal yang diperoleh mahasiswa selama kuliah dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, proses pembelajaran di perguruan tinggi masih didominasi pengembangan hard skill, sementara dunia profesional justru lebih banyak menuntut soft skill. Ia menggambarkan bahwa selama kuliah mahasiswa memperoleh sekitar 90 persen hard skill dan hanya 10 persen soft skill. Namun, ketika memasuki dunia kerja, komposisinya justru berbalik: sekitar 80 persen keberhasilan ditentukan oleh soft skill dan hanya 20 persen oleh hard skill. “Soft skill yang terlalu bagus tetapi tidak didasari ilmu yang cukup itu menyesatkan. Sebaliknya, hard skill yang bagus tanpa soft skill ternyata juga tidak banyak dipakai di masyarakat,” ujarnya.

Berbagi pengalamannya sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Hasto menekankan bahwa pasien cenderung lebih menyukai dokter yang mampu mendengarkan, menunjukkan empati, dan membangun komunikasi yang baik daripada sekadar memiliki kemampuan teknis. Hal ini menjadi contoh nyata bahwa soft skill berperan besar dalam menentukan keberhasilan karier.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Kekeringan DIY Kian Parah, Perubahan Iklim Jadi Pemicu Krisis Air Bersih