Dosen UMY Latih Organisasi Muslim di Jepang, Perkuat Peran Diaspora Hadapi Tantangan Global
- Dok UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Hidup sebagai bagian dari masyarakat minoritas di luar negeri bukanlah perkara mudah. Diaspora Muslim Indonesia di Jepang, khususnya di Hokkaido, menghadapi beragam tantangan mulai dari stereotipe negatif, disinformasi, hingga potensi Islamofobia yang muncul akibat pemberitaan kurang berimbang. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan kapasitas organisasi agar komunitas Muslim mampu bertahan sekaligus berkontribusi positif di tengah masyarakat.
Menjawab kebutuhan tersebut, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Mega Hidayati, menginisiasi program pengabdian masyarakat internasional berupa pelatihan manajemen organisasi bagi komunitas Muslim di Hokkaido. Program bertajuk Identifying the Needs of Ummah in Diaspora and Organizational Contribution to Society ini berlangsung sejak Februari hingga Juni 2026, dengan sesi intensif digelar pada 19 April 2026. Pelatihan melibatkan pengelola berbagai organisasi Islam di wilayah Hokkaido, yang sebagian besar merupakan diaspora Indonesia.
Mega Hidayati menegaskan bahwa organisasi Muslim Indonesia di luar negeri memiliki peran strategis, baik dalam membina umat maupun membangun hubungan harmonis dengan masyarakat setempat. Ia menjelaskan bahwa secara internal, organisasi berfungsi memperkuat tauhid dan ibadah umat, sekaligus membantu mengatasi tantangan praktis seperti pelaksanaan ibadah di sekolah atau tempat kerja, keragaman budaya Islam dari berbagai negara, hingga akses terhadap makanan halal. Namun, ia juga menekankan bahwa organisasi tidak boleh berhenti pada pembinaan internal, melainkan harus mampu membangun komunikasi positif dengan masyarakat lokal, berkolaborasi dengan komunitas nonkeagamaan, serta aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Melalui pelatihan ini, Mega berharap komunitas Muslim diaspora di Jepang mampu mengidentifikasi kebutuhan riil umat, memperkuat tata kelola organisasi, dan mengembangkan kontribusi nyata sebagai bagian dari masyarakat Jepang. Program lintas negara ini terlaksana berkat kerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang dan Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Hokkaido.
Ketua PRIM Hokkaido, Mustakim, menyambut baik pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi bekal penting bagi organisasi yang baru berdiri pada 5 Oktober 2025 untuk menyusun arah pengembangan ke depan. Menurutnya, meski masih berusia muda, PRIM Hokkaido memiliki komitmen kuat untuk memberikan kontribusi nyata, tidak hanya bagi diaspora Muslim Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat Jepang secara luas.