Dari Kelas ke Dunia Kerja, Begini Cara CSR TBIG Menyiapkan Talenta Vokasi

Head of CSR Department PT Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG), Arief Wibosono pada kegiatan pelatihan JFC Batch III kolaborasi GWPP dan TBIG
Sumber :
  • Viva Jogja

VIVA Jogja –Tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi yang tertinggi di Indonesia.

img_title AI Bukan Pengganti Wartawan, Melainkan Mitra Baru di Era Jurnalisme Digital

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan dunia industri yang terus berkembang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka nasional turun menjadi 4,68 persen.

img_title Pemkot Yogya Apresiasi Perusahaan Mitra CSR, Realisasi Program TSLP Sentuh Rp 5,9 Miliar

Namun, tingkat pengangguran lulusan SMK masih mencapai 7,74 persen.

Kondisi itu menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri agar lulusan lebih mudah terserap pasar kerja.  

img_title Semangat Inklusi: Ipsos Indonesia Hadirkan Dukungan Nyata bagi Pendidikan Disabilitas di Yogyakarta

Head of CSR Department PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Arief Wibisono, mengatakan transformasi digital membuat kebutuhan kompetensi tenaga kerja berubah sangat cepat sehingga sekolah membutuhkan dukungan dari dunia industri.

“Kami melihat transformasi digital membutuhkan SDM yang kompeten.

Karena itu program pendidikan kami fokus membangun link and match antara sekolah dengan industri melalui kurikulum unggulan, pelatihan guru, pelatihan siswa hingga program magang,” ujarnya pada kegiatan pelatihan Journalism Fellowship  on CSR (JFC) kolaborasi Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan Tower Bersama Infrastruktur Grup (TBIG), Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, program tersebut tidak dimaksudkan menggantikan kurikulum nasional, melainkan melengkapinya agar sesuai dengan perkembangan teknologi di lapangan.

CSR Advisor TBIG, Fahmi Sutan Alatas, menegaskan persoalan utama bukan karena kualitas pendidikan vokasi di Indonesia buruk.

“Program ini hadir bukan karena kurikulum SMK jelek. Justru kami belajar dari sekolah.

Persoalannya industri bergerak terlalu cepat sehingga pendidikan sering kali belum sempat mengejar perubahan itu," ujarnya

Karena itu, TBIG mengembangkan kurikulum unggulan yang dapat dimanfaatkan sekolah mitra tanpa membebani biaya tambahan.

Program tersebut meliputi pelatihan fiber optik dan FTTH, peningkatan kompetensi guru, kunjungan industri, laboratorium praktik hingga program magang.  

Hingga kini, program pendidikan TBIG telah menjangkau 64 sekolah di 14 provinsi, melibatkan 105 guru, 3.293 peserta program, serta memberikan manfaat kepada 22.829 siswa.

Sebanyak 122 siswa telah mengikuti magang, sementara 84 lulusan berhasil terserap bekerja melalui jaringan mitra perusahaan.  

Dampak program tersebut dirasakan SMK 11 Maret Bekasi.

Kepala Program Teknik Komputer dan Jaringan SMK 11 Maret Bekasi, Muhammad Andika Prawira, mengatakan kerja sama selama tiga tahun dengan TBIG membantu sekolah menyesuaikan materi pembelajaran sesuai kebutuhan industri.

Halaman Selanjutnya
img_title