SMK 11 Maret Bekasi Rasakan Dampak Nyata Kurikulum Unggulan TBIG, Lulusan Kian Siap Masuk Dunia Kerja

Kepala Program Teknik Komputer dan Jaringan SMK 11 Maret Bekasi saat kegiatan JFC 2026 Kolaborasi GWPP dan TBIG
Sumber :
  • Viva Jogja

VIVA Jogja –Kemitraan antara dunia pendidikan dan industri dinilai menjadi salah satu kunci meningkatkan daya saing lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

img_title SMK dan Dunia Industri, TBIG Buka Jendela Belajar Nyata bagi Siswa

Hal itu dirasakan langsung oleh SMK 11 Maret Bekasi setelah tiga tahun menjalankan Program Kurikulum Unggulan bersama PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan, TBIG tidak hanya memberikan pelatihan kepada siswa, tetapi juga membantu sekolah menyelaraskan kurikulum dengan perkembangan industri telekomunikasi yang terus berubah.

img_title Kolaborasi SMKN 6 Sukoharjo dan SOLOPEDULI di Gelar Karya P5

Kepala Program Teknik Komputer dan Jaringan SMK 11 Maret Bekasi, Muhammad Andika Prawira, mengatakan kolaborasi tersebut memberikan perubahan nyata dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Sebelumnya kami lebih banyak menggunakan kurikulum pemerintah.

img_title Sudaryono Jadi Kepala BGN, Ketua Tani Merdeka Jateng Berharap Bawa Kemajuan bagi Gizi Nasional

Setelah bekerja sama dengan TBIG, kami mengetahui kompetensi apa saja yang benar-benar digunakan di industri, baik terkait fiber optik maupun soft skill.

Akhirnya kurikulum sekolah kami sesuaikan agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya pada kegiatan Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2026 kolaborasi Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan Tower Bersama Infrastruktur Grup (TBIG), Rabu (1/7/2026).

Menurut Andika, materi yang dikembangkan bersama TBIG kini bahkan menjadi rujukan dalam pelaksanaan uji kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk bidang perancangan jaringan fiber optik di sekolahnya.

Ia menyebut manfaat program tidak berhenti pada penyelarasan kurikulum.

Guru memperoleh pelatihan rutin, sementara siswa mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan, kunjungan industri, hingga program magang.

“Tiap tahun kami dipercaya mengikuti pelatihan dan program magang dari TBIG.

Tahun lalu salah satu alumni kami sampai sekarang masih bekerja di salah satu mitra TBIG.

Itu menjadi bukti bahwa program ini benar-benar membuka peluang kerja bagi lulusan,” katanya.

Andika menilai persoalan utama pendidikan vokasi saat ini adalah masih adanya kesenjangan antara pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan industri yang berkembang sangat cepat.

“SMK bukan hanya tempat belajar, tetapi bagaimana lulusannya bisa terserap dunia kerja.

Karena itu kami terus berupaya menyiapkan siswa agar benar-benar siap bekerja,” ujarnya.

Belajar langsung budaya kerja industri

Halaman Selanjutnya
img_title