Guru Besar UGM Rumiyati Dorong Riset Makromolekul untuk Obat dan Nutrasetikal Berbasis Biodiversitas Indonesia

Prof Dr apt Rumiyati, dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Farmasi
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja – Dalam pidato pengukuhan Prof Dr apt Rumiyati, sebagai Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), dipaparkan urgensi pemanfaatan makromolekul dan senyawa bioaktif dari sumber hayati Indonesia untuk pengembangan produk farmasi dan nutrasetikal.

img_title UGM dan University of Melbourne Bahas Masa Depan AI dari Perspektif Humaniora

Makromolekul, yang sejak 1920-an berkembang dalam bidang kimia, biokimia, pangan, dan biologi molekuler, kini menjadi salah satu fondasi penting dalam riset farmasi modern. Molekul berukuran besar ini tersusun dari unit berulang dengan energi tinggi, baik alami maupun sintetis. Indonesia, dengan kekayaan biodiversitasnya yang melimpah, memiliki potensi besar sebagai sumber makromolekul dari tanaman, hewan, organisme laut, hingga mikroorganisme. Potensi ini, menurut Rumiyati, harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menjawab tantangan kesehatan global maupun nasional.

Rumiyati menyoroti tingginya prevalensi penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, kanker, hingga stunting yang masih menjadi masalah serius di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pengembangan produk farmasi berfungsi sebagai upaya kuratif, sementara produk nutrasetikal berperan dalam pendekatan preventif dan promotif. Produk nutrasetikal, yang dikenal juga sebagai pangan fungsional, dapat berupa kapsul minyak ikan, omega-3, atau tablet glukosamin, sedangkan pangan fungsional hadir dalam bentuk yoghurt, susu fortifikasi, roti, atau kue tinggi serat dan kaya antioksidan.

img_title UGM dan WorldVeg Perkuat Kapasitas Global Diagnostik Penyakit Tanaman Hortikultura

Meski pengembangan obat berbasis makromolekul protein telah menunjukkan penjualan besar secara global, tantangan tetap ada. Rumiyati menegaskan bahwa kelemahan utama terletak pada ketidakstabilan, masalah penghantaran, risiko imunogenisitas, kompleksitas manufaktur, biaya tinggi, serta waktu riset yang panjang. Oleh karena itu, riset lanjutan diperlukan untuk membuktikan mekanisme molekuler, uji keamanan, efektivitas, bioavailabilitas, stabilitas, serta interaksi antar komponen dalam formula.

Selain itu, beberapa makromolekul membutuhkan perlakuan khusus agar tidak mudah terdegradasi atau kehilangan aktivitas selama produksi dan penyimpanan. Teknologi seperti enkapsulasi nanoformulasi, edible coating, rekayasa protein, dan sistem pengantaran berbasis biopolimer menjadi solusi penting untuk menjaga kualitas. Rumiyati juga menekankan perlunya regulasi yang mendukung hilirisasi produk nutrasetikal, mengingat belum adanya kategori regulasi tersendiri untuk industri ini. Harmonisasi antara peneliti, regulator, industri, dan masyarakat menjadi kunci agar produk yang dikembangkan bersifat ilmiah, legal, aman, dan diterima pasar.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title UGM Hidupkan Semangat Tradisi Lewat Festival Karawitan dan Bazar Nusantara