Rasha Putra Permata: Menembus Batas Disabilitas, Raih Kursi di Teknik Fisika UGM
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Rasha Putra Permata (18) asal Yogyakarta, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menembus gerbang kampus impian. Penyandang disabilitas daksa dengan kondisi spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2, Rasha berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan resmi diterima di Program Studi Teknik Fisika UGM.
Sejak kecil, Rasha tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan. Ayahnya, Harsa Permata (47), seorang dosen honorer di perguruan tinggi swasta, dan ibunya, Triani Priliastuti (48), ibu rumah tangga yang selalu mendampingi setiap langkah perjuangan anaknya. “Kami percaya setiap anak punya cahaya sendiri. Rasha adalah emas, di mana pun berada, ia akan tetap bersinar,” ujar Triani dengan mata berkaca-kaca.
Keinginan Rasha untuk berkuliah di UGM bukan muncul tiba-tiba. Sejak SMP, ia sering berkunjung ke kawasan Bulaksumur dan terpesona oleh atmosfer akademik kampus tersebut. “Saya merasa suasana di UGM sangat nyaman dan mendukung. Dari dulu memang ingin kuliah di sini,” ungkapnya. Ketertarikan itu semakin kuat ketika ia mulai mendalami dunia robotika dan pemrograman di SMA Negeri 3 Yogyakarta.
Rasha dikenal sebagai siswa yang aktif dan kreatif. Ia gemar membuat komik digital di platform Webtoon, mengikuti lomba pengembangan gim, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah. Di OSIS, ia menjabat sebagai pengurus bidang multimedia dan menjadi koordinator acara sosial serta pentas seni. “Saya suka hal-hal yang berhubungan dengan teknologi dan seni visual. Di Teknik Fisika, saya ingin menggabungkan keduanya,” katanya.
Perjalanan menuju UGM tidak mudah. Kondisi fisiknya membuat akses ke lembaga bimbingan belajar menjadi terbatas. Banyak tempat yang belum ramah bagi pengguna kursi roda. Namun, semangatnya tak pernah surut. Ia mengumpulkan soal-soal latihan dari teman-temannya dan belajar mandiri hingga larut malam. “Rasha sering belajar sampai jam satu atau dua pagi. Ia sangat tekun,” tutur sang ibu. Tantangan terbesar baginya adalah memahami materi Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika, yang membutuhkan latihan intensif dan konsentrasi tinggi.
Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa penyandang disabilitas di Indonesia masih di bawah 1 persen dari total populasi mahasiswa nasional. UGM termasuk kampus yang aktif mengembangkan kebijakan inklusif, dengan penyediaan fasilitas ramah disabilitas seperti jalur landai, lift aksesibel, dan layanan pendampingan akademik. Tahun 2026, UGM mencatat peningkatan pendaftar disabilitas hingga 35 persen dibanding tahun sebelumnya, menandakan semakin terbukanya ruang bagi pendidikan inklusif.