Gamagora: Inovasi Padi UGM yang Menguatkan Ketahanan Pangan dari Madiun
- Dok Humas UGM
VIVA Jogja - Kabupaten Madiun menjadi saksi lahirnya harapan baru bagi dunia pertanian Indonesia. Pada Jumat, 10 Juli 2026, Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar panen perdana varietas padi Gamagora di Desa Gunungsari, Kecamatan Madiun. Panen ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda dimulainya perluasan pengembangan varietas hasil inovasi UGM di wilayah Madiun. Sebanyak 300 kilogram benih Gamagora diserahkan kepada tiga desa lokasi Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM, yakni Desa Gunungsari, Tanjungrejo, dan Tulungrejo.
Selain panen, UGM juga meresmikan pengembangan Living-Lab dari Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) di Desa Gunungsari. Living-Lab ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, petani, pemerintah desa, dan mitra dalam mempercepat hilirisasi inovasi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian adalah bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, tantangan pertanian tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan semata, melainkan memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Arie menekankan bahwa regenerasi petani menjadi tantangan besar. Semakin terbatasnya lahan dan rendahnya minat generasi muda terhadap pertanian harus diimbangi dengan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberi harapan baru. Living-Lab di Madiun diharapkan menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman petani. “Saya berharap Gamagora ini menjadi pintu masuk untuk membangkitkan masyarakat. Kuncinya tetap berada pada rakyat desa yang memiliki semangat membangun pertanian,” ujarnya.
Kepala Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Alan Soffan, menjelaskan bahwa Gamagora merupakan varietas padi yang dilepas pada 2023 dan telah melalui pengujian di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan uji multilokasi, varietas ini memiliki produktivitas rata-rata 7,9 ton per hektare dengan potensi hasil hingga 9,8 ton per hektare. Saat ini Gamagora telah dikembangkan mulai dari Pulau Enggano di Bengkulu hingga Merauke, Papua. “Sekarang Bapak-Ibu menjadi bagian dari ribuan petani dan ribuan hektare yang menanam Gamagora. Ini baru dilepas tahun 2023, tetapi pengembangannya sudah menjangkau berbagai daerah di Indonesia,” jelas Alan.