AI Jadi Senjata Baru Perebutan Pengaruh Global, Dosen UMY Ungkap Dampaknya bagi Indonesia

Dosen Hubungan Internasional UMY sekaligus pakar Ekonomi Politik Internasional, Arie Kusuma Paksi, S.IP., M.A
Sumber :
  • Dok Humas UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai teknologi pendukung produktivitas atau aplikasi percakapan seperti ChatGPT. Di tengah rivalitas global yang semakin tajam, AI telah menjelma menjadi aset strategis yang diperebutkan berbagai negara karena dinilai mampu menentukan keseimbangan kekuatan ekonomi, militer, hingga geopolitik dunia di masa depan.

img_title UGM Kembangkan TBScreen.AI untuk Percepat Skrining Tuberkulosis di Wilayah Terpencil

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar Ekonomi Politik Internasional, Arie Kusuma Paksi, S.IP., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa AI adalah teknologi dengan dua wajah. Di satu sisi, AI mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan produktivitas. Di sisi lain, AI menjadi fondasi penting bagi sistem pertahanan, intelijen, serta keamanan siber. Menurutnya, negara yang menguasai AI akan memperoleh keunggulan ganda: ekonomi dan militer. Karena itu, AI kini diperlakukan layaknya minyak atau teknologi nuklir pada masa lalu, yakni sebagai aset strategis yang harus dikuasai negara.

Arie menjelaskan bahwa persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah bergeser dari perang dagang menuju kompetisi penguasaan teknologi. Inti dari persaingan itu terletak pada chip semikonduktor berteknologi tinggi yang menjadi “otak” bagi pengembangan AI modern. Amerika Serikat memperketat pembatasan ekspor chip canggih ke Tiongkok, termasuk menekan penjualan peralatan produksi chip dari perusahaan seperti ASML dan Tokyo Electron. Namun, kebijakan ini bisa menjadi bumerang karena mendorong Tiongkok mempercepat kemandirian teknologi chip.

img_title Indosat Luncurkan Zankore, Platform Infrastruktur AI Terintegrasi untuk Asia-Pasifik

Lebih lanjut, Arie menilai penguasaan AI akan mengubah peta kekuatan global. Negara dengan akses data besar, infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi, serta sumber daya manusia unggul akan memperoleh keuntungan kompetitif yang terus meningkat. Keunggulan AI bersifat akumulatif: semakin banyak data dan peneliti yang dimiliki, semakin besar peluang suatu negara untuk terus unggul. Hal ini membuat perebutan pengaruh global bergeser dari penguasaan sumber daya alam menuju penguasaan infrastruktur digital, seperti pabrik chip, pusat data, hingga jaringan kabel internet bawah laut.

Menurut Arie, dunia kini mulai terbelah ke dalam blok-blok teknologi. Isu yang sebelumnya murni bisnis berubah menjadi isu keamanan nasional, sehingga kerja sama perdagangan internasional pun semakin kompleks. Dalam konteks ini, Indonesia masih berperan sebagai pengguna sekaligus pasar AI, bukan pengembang. Indonesia belum memiliki industri semikonduktor maupun kapasitas riset AI yang mampu bersaing di tingkat global.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title UGM Bangun Ekosistem AI Multidisiplin untuk Pendidikan dan Riset Masa Depan