UGM dan University of Melbourne Bahas Masa Depan AI dari Perspektif Humaniora
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat tidak hanya membawa kemajuan teknologi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mendalam tentang etika, relasi kekuasaan, hingga masa depan kehidupan manusia. Berangkat dari isu tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada bersama Faculty of Arts, The University of Melbourne kembali menyelenggarakan The 6th Australia–Indonesia in Conversation (AIC) 2026 dengan tema Is AI the Game-Changer? Intelligence Unbound: Ethics, Power, and the Imagination of Life in the Digital Age. Forum akademik tahunan ini mempertemukan akademisi dari Indonesia dan Australia untuk mendiskusikan AI melalui perspektif humaniora dan ilmu sosial, membedah isu etika, politik pengetahuan, kreativitas, hingga keberlanjutan kehidupan manusia.
Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas’udi, menjelaskan bahwa hubungan antara UGM dan The University of Melbourne telah terjalin lebih dari 15 tahun melalui berbagai bentuk kerja sama, mulai dari joint degree, double degree, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga riset kolaboratif. Menurutnya, AIC menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemitraan kedua institusi karena menghadirkan ruang dialog untuk saling bertukar pengetahuan, pengalaman, dan perspektif dalam merespons tantangan global. Forum ini lahir pada masa pandemi COVID-19 sebagai ruang percakapan yang berbeda dari konferensi akademik pada umumnya, dengan semangat kesetaraan dalam berdiskusi dan membangun kolaborasi lintas disiplin.
Perwakilan The University of Melbourne, Assoc. Prof. Edwin Jurriëns, menegaskan bahwa pemilihan tema AI didorong oleh besarnya pengaruh teknologi tersebut terhadap kehidupan manusia. Namun, pembahasan dalam forum ini tidak hanya menyoroti aspek teknis, melainkan juga bagaimana AI memengaruhi identitas manusia, relasi sosial, budaya, serta cara masyarakat memaknai perubahan yang berlangsung begitu cepat. Edwin mengingatkan bahwa masyarakat perlu bersikap kritis terhadap kepentingan politik dan ekonomi yang melatarbelakangi perkembangan AI. Menurutnya, pertanyaan utama bukan sekadar bagaimana teknologi berkembang, tetapi apakah perkembangan tersebut benar-benar ditujukan untuk kepentingan publik dan membawa manfaat yang adil bagi semua.
Diskusi panel pertama bertajuk Governing Intelligence: Ethics, Power, and the Politics of Knowing membahas AI dari perspektif tata kelola, etika, distribusi kekuasaan, hingga akuntabilitas dalam pengambilan keputusan berbasis algoritma. Prof. Robert Hassan memperkenalkan konsep Homo Analogicus yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang berevolusi melalui interaksi nyata dengan lingkungan dan sesama. Ia menekankan bahwa teknologi telah mengambil alih banyak peran sehingga manusia modern tidak lagi berevolusi secara fisik, melainkan bergantung pada teknologi untuk beradaptasi.