Lolos UGM Lewat Jalur Bibit Unggul, Putri Kembar Anak Buruh Serabutan Buktikan Pendidikan Mampu Ubah Masa Depan Desa
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja – Di tengah hamparan sawah Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, berdiri sebuah rumah sederhana berdinding bata yang belum diplester. Dari rumah itulah lahir kisah inspiratif dua saudari kembar yang berhasil menembus Universitas Gadjah Mada (UGM), membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Mahmudah Lathif dan saudari kembarnya, Muzdrickah Lathif atau akrab disapa Rikah, resmi diterima sebagai mahasiswa Sekolah Vokasi UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM). Keduanya juga memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen, sehingga dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya kuliah.
Keberhasilan dua putri pasangan Meseri dan Siti Rokhayati itu menjadi cerita baru bagi Desa Sidoharjo, wilayah yang selama bertahun-tahun lebih dikenal karena persoalan sosial dan kemiskinan dibanding prestasi pendidikan. Desa tersebut pernah mendapat stigma negatif sebagai "kampung idiot" akibat minimnya akses pendidikan dan persoalan sosial yang terjadi pada masa lalu. Seiring waktu, julukan itu perlahan bergeser menjadi "kampung TKI" karena banyak warganya memilih bekerja sebagai buruh migran di luar negeri untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Di tengah realitas tersebut, Mahmudah dan Rikah memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak ingin masa depan ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga ataupun kebiasaan yang berkembang di lingkungan sekitar. Keduanya memutuskan menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk mengubah masa depan, baik bagi diri sendiri maupun bagi desa tempat mereka dibesarkan.
Ayah mereka, Meseri, sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan. Ia mengandalkan pekerjaan apa pun yang tersedia, mulai dari membantu pekerjaan pertanian di sawah milik warga hingga menjadi buruh bangunan ketika ada proyek di luar desa. Penghasilannya tidak pernah tetap dan bergantung pada ketersediaan pekerjaan.
Sementara itu, sang ibu, Siti Rokhayati, merupakan ibu rumah tangga yang sesekali ikut membantu suaminya bekerja di sawah demi menambah penghasilan keluarga. Dengan kondisi ekonomi yang sederhana, pasangan ini berusaha memenuhi kebutuhan kedua anaknya semampu mungkin.
Sejak Mahmudah dan Rikah masih kecil, kedua orang tua mereka telah menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk memperbaiki kehidupan. Mereka sengaja memperkenalkan buku dan kebiasaan belajar sejak anak-anak belum memasuki bangku taman kanak-kanak.