Anak sebagai Investasi Bangsa, Tantangan Pemerataan Pendidikan dan Kesehatan Masih Mengemuka

Populasi anak mencapai hampir 30 persen dari total penduduk Indonesia,
Sumber :
  • Istimewa

SLEMAN, VIVA Jogja  - Anak-anak merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan jumlah populasi yang mencapai hampir 30 persen dari total penduduk Indonesia, keberadaan mereka memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada, Basilica Dyah Putranti, menegaskan bahwa anak adalah investasi masa depan yang kelak akan memasuki usia produktif dan menjadi penopang keberlanjutan kehidupan masyarakat. Hal itu disampaikan dalam sebuah podcast bertajuk “Anak Sebagai Penduduk Masa Depan: Antara Kerentanan dan Ketangguhan”.

img_title 12 Tahun UU SPPA Berlaku, Evaluasi Keberhasilan Harus Berpihak pada Masa Depan Anak

Menurut Basilica, atau yang akrab disapa Lica, salah satu tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini berkaitan dengan perubahan struktur demografi. Jika pada masa lalu Indonesia menghadapi persoalan ledakan penduduk, kini tren justru menunjukkan peningkatan jumlah penduduk lanjut usia yang disertai penurunan angka kelahiran. Kondisi ini menimbulkan konsekuensi baru, di mana jumlah anak sebagai generasi penerus semakin berkurang, sementara beban ketergantungan terhadap kelompok usia produktif semakin besar. Dalam konteks ini, anak tidak boleh dipandang sekadar sebagai angka statistik, melainkan sebagai modal manusia yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Lica menekankan bahwa anak harus dilihat secara komprehensif dari berbagai aspek, mulai dari kesehatan, pendidikan, psikososial, hingga dukungan sosial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta, prevalensi stunting di kedua wilayah tersebut masing-masing mencapai 17,2 persen dan 17,4 persen. Angka tersebut relatif tidak jauh berbeda, meskipun kedua daerah telah memiliki layanan kesehatan yang cukup baik. Ia menambahkan bahwa angka kematian bayi di wilayah tersebut sudah menurun signifikan, menunjukkan adanya perbaikan dalam layanan kesehatan dasar. Namun demikian, pemerataan akses layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia masih menjadi tantangan besar. Banyak anak di daerah tertinggal belum sepenuhnya menikmati jaminan kesehatan yang memadai.

img_title Bantul Perkuat Kolaborasi untuk Tekan Stunting

Dari sisi pendidikan, Lica menjelaskan bahwa angka partisipasi sekolah di Jakarta dan Yogyakarta tergolong tinggi. Meski demikian, terdapat titik rawan pada kelompok usia sekolah menengah atas, yakni 16–18 tahun, di mana angka partisipasi menurun hingga sekitar 88 persen. Secara nasional, angka partisipasi sekolah hanya mencapai 74 persen. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena pada usia tersebut anak-anak mulai memasuki masa produktif, namun justru tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk mengembangkan diri melalui pendidikan formal. Rendahnya partisipasi sekolah berpotensi menghambat pengembangan kapasitas anak sebagai sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.

Halaman Selanjutnya
img_title