Autoimun Lebih Rentan pada Perempuan, Pakar UGM Tekankan Manajemen Stres sebagai Kunci Pencegahan

Prevalensinya penyakit autoimun lebih tinggi pada perempuan usia reproduktif
Sumber :
  • Istimewa

 

img_title “Jalan Pulih” di Djourno Fest 2026: Suara Perempuan Disabilitas Psikososial Tegaskan Pemulihan Adalah Perjalanan

VIVA Jogja   Penyakit autoimun semakin menjadi perhatian serius di Indonesia, terutama karena prevalensinya lebih tinggi pada perempuan usia reproduktif. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor hormonal, khususnya estrogen, yang memiliki peran besar terhadap sistem kekebalan tubuh. Ketidakseimbangan hormon dapat memicu munculnya penyakit autoimun, bahkan berisiko mengancam keselamatan ibu hamil. Fakta ini menegaskan perlunya kewaspadaan lebih terhadap perempuan yang sedang merencanakan program kehamilan.

Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Prof Dr dr Nyoman Kertia, menjelaskan bahwa autoimun terjadi akibat kesalahan sistem imun dalam mengenali sel tubuh sendiri. Normalnya, sistem imun berfungsi melawan benda asing seperti bakteri, virus, atau parasit. Namun, pada penderita autoimun, sel imun justru menyerang organ tubuh sendiri. Akibatnya, berbagai organ dapat menjadi sasaran, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga organ vital lainnya. Nyoman memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa di Indonesia mengalami autoimun, yang berarti jumlahnya bisa mencapai empat juta orang.

img_title Keterwakilan Perempuan di DPRD Kota Yogyakarta Masih Rendah, GOW Dorong Penguatan Kaderisasi Politik

Menurut Nyoman, penyakit autoimun sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Namun, pada kasus berat, kondisi ini dapat berakibat fatal. Faktor genetik memang berperan, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Lingkungan, polusi, pola makan tidak sehat, serta stres juga menjadi pemicu signifikan. Ia menyoroti bahwa stres merupakan faktor dominan yang memperburuk kondisi autoimun. Banyak pasien, termasuk mahasiswa, mengalami gejala autoimun setelah menghadapi tekanan akademik maupun beban hidup. Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis memiliki pengaruh besar terhadap munculnya penyakit.

Nyoman menjelaskan bahwa autoimun terbagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, autoimun organ spesifik, seperti Hashimoto yang menyerang tiroid atau diabetes melitus tipe 1 yang menyerang pankreas. Kedua, autoimun sistemik, seperti lupus, yang dapat menyerang berbagai organ sekaligus. Penyakit sistemik ini memiliki gejala beragam dan sering kali lebih kompleks. Meski laki-laki juga bisa terkena autoimun, sekitar 80 persen kasus ditemukan pada perempuan, terutama usia muda, karena sistem imun mereka lebih aktif.

img_title Bentuk Jaringan Paralegal Desa untuk Dampingi Kasus Perempuan dan Anak di Jepara

Dalam penanganan autoimun, Nyoman menekankan pentingnya mengenali pemicu utama. Kelelahan, stres, dan paparan sinar matahari berlebihan menjadi faktor yang harus dihindari. Ia menyarankan pasien untuk menjaga pola tidur, tidak memaksakan diri bekerja, serta mengurangi paparan matahari dengan pelindung. Nyoman juga menekankan perlunya pasien memahami tubuh mereka sendiri, termasuk mencatat makanan yang dikonsumsi untuk mengetahui apakah ada kaitan dengan kambuhnya gejala. Menurutnya, setiap orang memiliki pemicu berbeda sehingga kesadaran diri menjadi kunci.

Halaman Selanjutnya
img_title