UGM–NUS Bangun Jejaring Pemodelan Penyakit Menular di Asia Tenggara
- Istimewa
SLEMAN, VIVA Jogja – Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) memperkuat kapasitas riset pemodelan penyakit menular dengan menggandeng Saw Swee Hock School of Public Health, National University of Singapore (NUS). Kerja sama ini diwujudkan dalam rangkaian Visiting Professor dan UGM–NUS Modelling Workshop 2026 yang berlangsung pada 17–24 Juli 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan pakar epidemiologi dari NUS, Prof. Alex R. Cook dan Dr. Swapnil Mishra, serta fasilitator Dr. Kartika Saraswati.
Ketua Hibah Visiting Professor, Bayu Satria Wiratama, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum transfer pengetahuan, melainkan langkah awal membangun ekosistem pemodelan penyakit menular yang berkelanjutan di UGM. “Kami ingin peserta tidak hanya memahami konsep pemodelan, tetapi juga mampu menerapkannya untuk mengatasi persoalan kesehatan masyarakat. Kolaborasi dengan NUS diharapkan berkembang menjadi pengembangan bahan ajar, penelitian bersama, dan publikasi ilmiah,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pelatihan Introduction to R untuk menyetarakan kemampuan dasar peserta dalam pengelolaan data dan pemrograman. Setelah itu, kuliah tamu bertajuk Recent Advances in Infectious Disease Modelling and Its Applications for Public Health Policy digelar, diikuti mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemerhati kesehatan. Dalam kuliah tersebut, Alex Cook menekankan bahwa model penyakit menular dapat digunakan untuk memperkirakan dinamika transmisi, mengevaluasi dampak intervensi, dan membantu pengambil kebijakan menghadapi ketidakpastian selama wabah. Namun, ia mengingatkan bahwa model harus dibangun berdasarkan pertanyaan yang jelas, data yang sesuai, serta pemahaman terhadap konteks kesehatan masyarakat.
Workshop utama kemudian membahas pemodelan kompartmental, Bayesian, spasial, dan stokastik melalui sesi konseptual, praktik menggunakan R, diskusi, dan studi kasus. Peserta diperkenalkan pada model epidemiologi seperti SIR dan SEIR, sekaligus mempelajari formulasi asumsi, estimasi parameter, kalibrasi, validasi, analisis ketidakpastian, visualisasi hasil, hingga penyampaian implikasi model bagi kebijakan kesehatan. Dengan pendekatan hands-on, peserta berkesempatan membangun dan menjalankan model, mengubah parameter, mengamati hasil simulasi, serta mendiskusikan penerapannya dalam konteks penyakit menular.
Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, Dr dr Citra Indriani, menilai pemodelan penyakit menular semakin penting untuk mendukung pengendalian penyakit tropis di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki beragam persoalan penyakit menular serta sumber data yang berpotensi dikembangkan menjadi dasar analisis dan rekomendasi kebijakan. “Pemodelan memungkinkan kita memahami pola penularan, memperkirakan perkembangan penyakit, dan membandingkan dampak dari berbagai intervensi. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan model tetap relevan dengan kondisi epidemiologi dan kebutuhan kesehatan masyarakat di Indonesia,” katanya.