Mahasiswa UGM Kembangkan Polpay, Sistem Pembayaran Digital Sidik Jari yang Aman dan Terjangkau

Mahasiswa berhasil mengembangkan sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang diberi nama Polpay.
Sumber :
  • Istimewa

SLEMAN,  VIVA Jogja -  Inovasi teknologi kembali lahir dari tangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sekelompok mahasiswa berhasil mengembangkan sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang diberi nama Polpay. Sistem ini memungkinkan transaksi dilakukan tanpa kartu maupun telepon genggam, dengan mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan, dan efisiensi. Kehadiran Polpay menjadi terobosan baru dalam dunia pembayaran digital di Indonesia, sekaligus menjawab tantangan modernisasi sistem keuangan yang inklusif dan terpercaya.

img_title Mahasiswa UGM Teliti Strategi Warga Kauman Solo Hadapi Gentrifikasi

Polpay mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC). Proses autentikasi dilakukan secara langsung melalui biometrik pengguna, kemudian data diproses menggunakan teknologi edge computing dan dienkripsi dengan algoritma Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256). Seluruh data dikirimkan ke server melalui protokol SSL/TLS untuk pemrosesan lebih lanjut. Dengan rancangan ini, Polpay tidak hanya menjanjikan kecepatan transaksi, tetapi juga keamanan tingkat tinggi yang sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang dicanangkan Bank Indonesia.

Ketua tim Polpay, Tiara Ramadhani, menjelaskan bahwa sistem ini dikembangkan sebagai alternatif teknologi biometrik yang lebih terjangkau dibandingkan sistem serupa yang membutuhkan infrastruktur mahal. “Melalui inovasi ini, masyarakat dapat menikmati pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan aman, serta tidak lagi bergantung pada kartu maupun perangkat seluler,” ujarnya. Tiara menambahkan bahwa Polpay diharapkan mampu menjadi solusi pembayaran digital yang inklusif, terutama bagi masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau oleh layanan perbankan modern.

img_title Lulusan Perguruan Tinggi Dituntut Siap Hadapi Era AI dengan Kompetensi dan Pengalaman Kerja

Dalam proses pengembangan, tim Polpay menghadapi berbagai tantangan. Al Farabi Obiansyah menuturkan bahwa aspek keamanan menjadi fokus utama. “Tantangan utama dalam pembuatan Polpay adalah memastikan seluruh sistem yang ada memiliki tingkat keamanan yang tinggi,” katanya. Farabi menegaskan bahwa ide ini lahir dari kesadaran bahwa Indonesia belum menerapkan sistem pembayaran berbasis sidik jari, sehingga tim berupaya menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan tersebut. Meski begitu, ia mengakui masih ada celah perlindungan data yang perlu terus dikembangkan.

Marcelino Budi Prakasya menambahkan bahwa proses perancangan Polpay terus menemukan hal-hal baru yang dapat disempurnakan. Menurutnya, penerapan privacy-preserved architecture dan edge computing architecture menjadi bagian penting dalam menjaga privasi pengguna. “Pengembangan sistem ini membutuhkan riset mendalam dan waktu yang panjang. Setiap hari kami masih menemukan celah yang bisa diinovasikan, baik melalui pembaruan software maupun penggunaan komponen yang lebih optimal,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa Polpay bukan sekadar produk teknologi, melainkan hasil riset berkelanjutan yang terus dikembangkan.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Meutya Hafid Dorong Transformasi Digital dan Kedaulatan AI Lewat Pusat Teknologi UGM-Indosat-NVIDIA