UGM Lahirkan Kurator Biodiversitas untuk Perkuat Konservasi Hayati
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mencetak tenaga profesional di bidang pengelolaan keanekaragaman hayati. Pada Selasa (26/8), lima lulusan Program Studi Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PKKH) resmi dilantik dan menyandang gelar kurator setelah menempuh pendidikan intensif selama 11 bulan 10 hari. Dengan pelantikan ini, program yang baru dibuka beberapa tahun lalu telah menghasilkan 22 kurator yang diharapkan mampu berkontribusi dalam menjaga dan mengelola kekayaan biodiversitas Indonesia.
Program PKKH UGM merupakan yang pertama di Indonesia dan Asia, bahkan menjadi pionir setelah Cambridge University di Inggris. Kehadiran program ini menjadi langkah strategis dalam mencetak tenaga profesional yang memiliki kompetensi khusus di bidang kurasi keanekaragaman hayati. Fakultas Biologi UGM menggandeng Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) dan Indonesia Biologist Association (IBA) atau Perkumpulan Profesi Ilmu Hayati Indonesia (PIHI) untuk memperkuat pelaksanaan program. Kolaborasi ini menegaskan komitmen UGM dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan konservasi global.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof Dr Budi Setiadi Daryono, menegaskan bahwa profesi kurator keanekaragaman hayati memiliki peran vital dalam mendukung pengelolaan dan pelestarian biodiversitas. Menurutnya, kurator tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan praktis dan integritas dalam menjalankan tugas. “Profesi kurator keanekaragaman hayati memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan dan pelestarian biodiversitas Indonesia. Karena itu, diperlukan tenaga profesional yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga keterampilan dan integritas dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya. Ia berharap para kurator yang baru dilantik dapat menjalankan profesinya secara profesional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, serta kelestarian biodiversitas.
Kaprodi PKKH, Prof Dra Tuty Arisuryanti, menambahkan bahwa para lulusan berasal dari beragam latar belakang pendidikan, mulai dari sarjana hingga doktoral, serta dari berbagai daerah di Indonesia. Lima lulusan periode ini berhasil meraih predikat pujian dengan rata-rata IPK 3,96. Henta Ria Anisa dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan IPK sempurna 4,00. Capaian akademik ini menunjukkan kualitas pendidikan yang dijalankan program PKKH sekaligus kesiapan lulusan untuk terjun ke dunia profesional.