Inovasi Mahasiswa UGM: Limbah Ampas Tebu Disulap Jadi Pasir Kucing Organik Antimikroba

Mahasiswa UGM olah limbah ampas tebu menjadi pasir kucing organik
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja – Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menghadirkan inovasi unik dengan mengolah limbah ampas tebu menjadi pasir kucing organik yang memiliki fungsi antimikroba sekaligus indikator kesehatan. Produk yang diberi nama Felyhart ini dirancang bukan hanya sebagai alternatif ramah lingkungan terhadap pasir kucing konvensional, tetapi juga sebagai media pemantauan awal kondisi saluran kemih kucing melalui perubahan pH urine.

img_title UGM Vet Fun Run 2026, Meriahkan Dies Natalis ke-80 FKH dengan Lari Bersama Anabul

Tim pengembang Felyhart terdiri atas lima mahasiswa lintas fakultas, yakni Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, dan Pratiwi Putri Hasibuan dari Fakultas Teknik, Rayhan Farel Ramadhani dari Fakultas Kedokteran Hewan, serta Humairo Labiiba dari Sekolah Vokasi. Mereka bekerja di bawah bimbingan Dr. drh. Madarina Wassisa dari Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Hewan. Penelitian ini diberi judul “Felyhart: Inovasi Pasir Kucing Organik Antimikroba Penekan Transmisi Fekal-Oral dengan Indikator pH Urine Terintegrasi Sistem Pemantauan Kesehatan Digital”.

Pasir kucing Felyhart dibuat dengan memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan dasar yang lebih mudah terurai dibandingkan bentonite, bahan yang lazim digunakan dalam produk komersial. Selain itu, pasir ini dilengkapi indikator pH alami yang memungkinkan perubahan warna sesuai tingkat pH urine kucing. Perubahan warna tersebut menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan, meski bukan diagnosis penyakit. Untuk menekan pertumbuhan bakteri, tim menambahkan natrium propionat yang berfungsi sebagai zat antimikroba.

img_title UGM Ungkap Fenomena Clickbait dalam Konten Afiliasi

Keunggulan Felyhart tidak berhenti pada produk fisik. Tim juga mengembangkan situs web yang dapat memindai dan menganalisis perubahan warna pada gumpalan pasir. Hasil pemindaian memberikan informasi mengenai nilai pH urine kucing. Jika kucing menunjukkan gejala seperti mengejan saat berkemih, sering keluar-masuk kotak pasir, kesakitan, terdapat darah dalam urine, atau kesulitan berkemih, pemilik disarankan segera berkonsultasi dengan dokter hewan.

Arsi Cahyani, ketua tim, menjelaskan bahwa ide ini berawal dari persoalan limbah pasir kucing yang sulit terurai dan berpotensi menjadi media pertumbuhan bakteri. “Dari situ muncul gagasan untuk memanfaatkan limbah ampas tebu sebagai bahan dasar pasir kucing yang lebih ramah lingkungan sekaligus membantu mengurangi limbah yang belum termanfaatkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahan alami ini juga diharapkan membuat produk lebih terjangkau.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Lingo, Inovasi Mahasiswa UGM untuk Literasi Anak Usia Dini Tanpa Gawai