Limbah Kolang-Kaling Jadi Produk Tekstil Tembus Pasar Dunia

Produk tekstil dari limbah kolang-kaling
Sumber :
  • Humas UMY

 

img_title Optimisme Kerja Menurun, Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

VIVA Jogja – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), M. Miftakhul Huda (23) mengubah tumpukan limbah produksi kolang-kaling di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah yang telah lama menjadi persoalan lingkungan. Dari setiap proses produksi, sekitar 70 persen bagian dari buah ini terbuang sia-sia, menumpuk menjadi sampah organik yang meresahkan warga.

Tumpukan limbah itu, kini justru diubah menjadi peluang usaha kreatif bernilai tinggi, melalui startup yang diberi nama Terramitra, Huda mengolah limbah kolang-kaling menjadi produk tekstil ramah lingkungan yang kini mulai merambah pasar internasional.

img_title 383 Jamaah Haji Kulonprogo Disambut Hangat, Pemkab Siapkan Peningkatan Layanan Haji 2027

“Selama ini orang hanya mengambil daging buahnya, sementara sisanya dibuang. Padahal limbahnya bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Huda.

Terramitra merupakan perusahaan manufaktur berbasis teknologi yang berfokus pada pengolahan limbah industri kolang-kaling menjadi bahan tekstil berkelanjutan. Gagasan Terramitra lahir pada akhir 2022, saat Huda mengikuti program design thinking yang diselenggarakan SEBI (Startup and Business Incubator) UMY.

img_title Gebyar UMKM Mandala Krida: Strategi Promosi Baru Dekatkan Produk Lokal ke Masyarakat

Program tersebut mendorong mahasiswa untuk mencari solusi dari permasalahan nyata di lingkungan mereka. Melihat tumpukan limbah di kampung halamannya, Huda mulai melakukan riset sederhana, yang kemudian mendapatkan dukungan pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kemendikbudristek.

Selama setahun penuh, ia menjalani riset intensif dengan menggandeng mitra seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU). Hasilnya, _Terramitra_ berhasil meluncurkan produk tekstil berbasis serat limbah kolang-kaling secara resmi pada September 2024 di Bali.

Kini, limbah yang sebelumnya hanya menjadi sampah, berhasil diubah menjadi bahan baku tas, alas kaki, hingga dekorasi rumah. Proses produksinya juga melibatkan pemberdayaan masyarakat di Pekalongan dan Gamplong, Yogyakarta, sekaligus menghidupkan kembali desa-desa pengrajin tenun yang sempat terpuruk. Huda bahkan telah merekrut 30 karyawan untuk menjalankan bisnisnya.

Terramitra tidak hanya bertahan, tapi berkembang pesat. Huda mencatat omzet bulanan yang pernah menembus Rp100 juta, dengan kebutuhan produksi mencapai 10 ton limbah per bulan. Produk-produk _Terramitra_ kini telah menembus pasar empat negara dan membuka toko resmi di Amsterdam, Belanda.

Halaman Selanjutnya
img_title