Inovasi Tongkat Pintar Karya UMY Siap Diproduksi Massal

Tongkat pintar untuk tuna-netra
Sumber :
  • Humas UMY

VIVA Jogja – Kabar gembira bagi penyandang tuna-netra, sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), telah menciptakan tongkat bantu jalan pintar yang dilengkapi berbagai sensor dan fitur keselamatan modern dan segera diproduksi massal.

img_title Program Rumah Layak Pemkot Yogya, Lengkapi Akses Air Bersih

Dosen Tetap Program Studi Teknologi Elektro-medis di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  UMY, Ir Nurhuda Wijaya menyebutkan, inspirasi awalnya berasal dari tetangganya  yang tunanetra. “Selama ini beliau hanya menggunakan tongkat biasa dan meraba-raba rintangan secara manual,” ujar Nurhuda saat ditemui, Senin (07/07/2025).

Ia menceritakan bahwa pernah menyaksikan langsung bagaimana kepala tetangganya hampir terbentur papan nama di jalan. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk menghadirkan inovasi yang lebih aman dan adaptif bagi penyandang disabilitas netra.

img_title Malam Kebangsaan di Balai Kota Yogya Teguhkan Semangat Persatuan dan Kedaulatan Ekonomi

Tongkat pintar rancangan Nurhuda dilengkapi berbagai fitur canggih seperti sensor api, sensor lubang, dan sensor jarak berbasis teknologi ultrasonik. Tongkat ini juga dilengkapi roda di bagian depan untuk kemudahan penggunaan serta lampu malam guna meningkatkan visibilitas dalam kondisi gelap.

Fitur utama dari tongkat pintar ini adalah sistem GPS dan tombol darurat. Jika pengguna tersesat atau berada dalam situasi darurat, cukup menekan tombol yang secara otomatis mengirimkan lokasi terkini ke nomor kontak keluarga yang telah ditentukan sebelumnya.

img_title Ribuan Warga Manfaatkan Klinik Perizinan dan Investasi DPMPTSP Kota Yogyakarta

“Setiap jenis rintangan akan menghasilkan suara peringatan yang berbeda. Jadi pengguna dapat membedakan apakah di depannya ada lubang, api, atau penghalang lainnya,” jelas Nurhuda.

Tongkat ini menggunakan baterai isi ulang serupa powerbank, sehingga dapat digunakan dalam kondisi siang maupun malam. Saat ini, produk tersebut belum tersedia di pasaran. Namun Nurhuda menyatakan pihaknya siap menjalin kemitraan dengan industri untuk memproduksinya secara massal.

Dalam proses pengembangan, Nurhuda melibatkan tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin, serta menggandeng beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai mitra uji coba. Setelah diuji coba kepada tiga penyandang tunanetra di salah satu SLB mitra, hasilnya sangat positif. Para pengguna merasa terbantu, bahkan pihak SLB secara langsung meminta alat tersebut untuk digunakan dalam kegiatan belajar dan aktivitas sehari-hari.

“Tongkat ini sudah mendapatkan hak paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) pada tahun 2024. Harapannya, ke depan alat ini dapat diproduksi secara luas agar bisa menjangkau seluruh penyandang tunanetra di Indonesia,” ucapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title