UGM Serahkan Benda Hasil Ekskavasi ke Masyarakat Labuan Bajo
- Humas UGM
VIVA Jogja - Departemen Arkeologi dan Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, menyerahkan benda-benda budaya kepada masyarakat Warloka, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin lalu. Koleksi yang dikembalikan meliputi 40 kilogram artefak hasil ekskavasi yang terbagi menjadi 15 kategori, termasuk perhiasan, alat bantu, keramik, gerabah, koin, serta sisa-sisa kerangka dari tiga individu leluhur.
Benda-benda ini merupakan hasil penggalian yang dilakukan 15 tahun lalu yang selama ini disimpan di UGM untuk kebutuhan riset. Proses repatriasi ini menjadi langkah yang menegaskan pentingnya tanggung jawab etis dalam kegiatan akademik, termasuk refleksi atas posisi peneliti dan prinsip keadilan dalam berbagi pengetahuan dan manfaat riset.
Ketua tim repatriasi UGM, Dr Tular Sudarmadi menyampaikan, warisan budaya seharusnya tidak dikelola dengan pendekatan eksploitatif yang bersumber dari praktik kolonial. Ia menegaskan bahwa sebagai akademisi, penting untuk membangun relasi setara dengan komunitas yang menjadi subjek penelitian. Kini, UGM tengah merancang pedoman universitas untuk tata kelola benda hasil ekskavasi arkeologis, yang akan menjadi inisiatif pertama di Indonesia. “Saya merasa memiliki kewajiban moral untuk mengembalikan benda-benda ini kepada Komunitas Warloka,” ujarnya, Rabu (16/07/2025).
Ditambahkan Dosen FIB lainnya, Dr Rucitarahma Ristiawan, pemulangan artefak kepada komunitas asal merupakan langkah penting menuju keadilan epistemik. Ia juga menekankan pentingnya pembagian manfaat hasil riset secara adil antara akademisi dan masyarakat. Pemulangan artefak bukan hanya tindakan simbolis, tetapi juga bentuk nyata dari transformasi praktik akademik. “Repatriasi ini mengakui nilai sistem pengetahuan lokal dan memperkuat hak komunitas untuk menarasikan sejarahnya sendiri,” terangnya.
Repatriasi ini juga dilakukan mahasiswa pascasarjana Arkeologi UGM, Oto Alcianto, dan University of Glasgow melalui peneliti art crime dan kriminologi, Dr Emiline Smith. Dan menurut Emiline Smith, repatriasi ini menunjukkan perlunya refleksi atas tanggung jawab etik akademisi dan penguatan peran negara dalam tata kelola warisan budaya. Ia menambahkan bahwa proses pemulangan artefak harus dilengkapi dengan dukungan kelembagaan yang memungkinkan pelestarian dan penghormatan terhadap sisa leluhur. Dalam konteks ini, kolaborasi antarnegara menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan program repatriasi.