Zuraemi dan Camar Tambakrejo: Dari Aksi Peduli Lingkungan, Lahir Pusat Eduwisata dan UMKM Unggulan

Zuraemi, Koordinator CAMAR
Sumber :

Semarang, VIVA Jogja – Kawasan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, menjadi saksi tumbuhnya gerakan masyarakat akar rumput yang kini menjadi pusat inspirasi nasional.

img_title SUCOFINDO Semarang Bangun Lima Sumur Air Bersih di Boyolali, Perkuat Komitmen Lingkungan dan Keberlanjutan

Berawal dari keprihatinan akan abrasi dan kerusakan lingkungan pesisir, lahirlah Kelompok Peduli Lingkungan Camar (Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun) pada tahun 2011, dengan semangat gotong royong dan dukungan dari CSR PT Pertamina (Persero). Kini, Camar tak hanya menjaga mangrove, tapi juga membangun ekosistem ekonomi dan wisata berbasis lingkungan yang menghidupi puluhan keluarga.

Zuraemi, Ketua KPL Camar, menceritakan bahwa awal mula terbentuknya kelompok ini adalah untuk melengkapi empat program CSR Pertamina yang hadir pada tahun 2010—yakni infrastruktur, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Namun, masyarakat menyadari ada satu aspek penting yang belum disentuh, yakni pelestarian lingkungan.

img_title Nataru Usai, Konsumsi BBM Berkualitas di Jateng–DIY Melonjak Tajam

"Dari situlah kami membentuk kelompok ini di 2011, untuk menjawab tantangan lingkungan yang belum tersentuh program sebelumnya," ujar Zuraemi. Kelompok ini sempat beranggotakan 24 orang.

Kini, 12 di antaranya masih proaktif menjalankan berbagai kegiatan konservasi dan pengembangan wisata edukatif berbasis mangrove.

img_title Pasokan LPG Tetap Jalan di Hari Libur, Pertamina Siaga Penuh Selama Nataru

Aset Berharga dari CSR Pertamina

Pada tahun 2019, Pertamina memberikan dukungan infrastruktur berupa jogging track sepanjang 240 meter senilai Rp240 juta, yang menjadi tulang punggung eduwisata “Mangrove Tambakrejo”. Jembatan kayu ini membelah hutan mangrove dan dilengkapi berbagai spot foto, menjadikannya destinasi favorit warga lokal maupun akademisi.

Meski sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, kawasan ini kembali hidup. Rata-rata kini menerima 50-60 pengunjung per minggu. Untuk masuk, pengunjung bisa memilih paket eduwisata yang meliputi penanaman satu bibit mangrove seharga Rp3.500 dan penyewaan kapal Rp10.000 per orang.

Eduwisata yang Terintegrasi dengan UMKM

Konsep eduwisata Camar tak sekadar melihat mangrove. Zuraemi dan tim mengintegrasikan kegiatan ini dengan pemberdayaan UMKM, terutama kaum ibu di sekitar Tambakrejo. Mulai dari camilan berbahan daun mangrove seperti keripik, hingga produk olahan laut seperti terasi, bandeng presto, bebek padas, telur asin, hingga aksesoris dari kerang hijau.

"Di sini, ibu-ibu jadi sibuk, jadi nggak banyak ngerumpi. Mereka bikin produk, melayani pengunjung, dan ikut pelatihan pemasaran digital," jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title