Dari Lintasan ke Kampus Impian: Eifie Julian Hikmah Menuntaskan Mimpi Sang Ayah

Eifie Julian Hikmah
Sumber :
  • Humas UGM

VIVA Jogja - Di balik sorotan prestasi dan almamater Universitas Gadjah Mada, tersimpan kisah seorang atlet muda yang berlari bukan hanya untuk medali, tetapi untuk menuntaskan mimpi yang diwariskan oleh sang ayah. Namanya Eifie Julian Hikmah, mahasiswi baru Program Studi Akuntansi FEB UGM, yang juga merupakan atlet disabilitas asal Kediri. Perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa keterbatasan fisik tak pernah menjadi batas untuk bermimpi besar.

img_title Pemkot Yogyakarta Gelar Seleksi Beasiswa Prestasi Kelurahan 2026, Nilai TKA dan TKAD Jadi Penentu

Tangis, Kekhawatiran, dan Nama yang Penuh Makna

Hari Minggu, 23 Juli 2006, tangis bayi perempuan menggema di ruang bersalin. Namun, kebahagiaan Eny Nawangsih berubah menjadi kekhawatiran saat sang bidan tak mengenakan sarung tangan bayi yang telah ia siapkan. “Bu, ada kekurangan pada tangan Eifie,” ucap sang suami, Mochamad Farid, lirih.

img_title Festival Jamu Nusantara Dorong Tradisi Minum Herbal Jadi Gaya Hidup Modern

Dengan penghasilan sebagai tukang kayu, Farid dan Eny sempat ragu: mampukah mereka membesarkan anak dengan disabilitas daksa? Namun, dukungan keluarga mengalir deras. Tak ada yang disalahkan. Putri mereka hadir sebagai rezeki, membawa hikmah di bulan Juli. Maka, ia diberi nama: Eifie Julian Hikmah.

Eifie tumbuh cerdas dan ceria, meski tak lepas dari sorotan anak-anak sekitar. “Tangannya putul,” kenang Eny, mengingat ejekan polos dari balik pagar. Meski percaya diri, air mata Eifie tetap jatuh di momen-momen seperti itu.

img_title Pemkot Yogya dan Diwa Foundation Bedah Rumah, Prioritaskan Hunian Layak bagi Disabilitas

Namun, semangatnya tak padam. Saat masuk SD, Eny memilih menyekolahkan Eifie di sekolah negeri. Hasilnya luar biasa: Eifie meraih peringkat pertama dari kelas 1 hingga 6. “Aku masih bisa beraktivitas dan berprestasi. Jadi, buat apa dengerin omongan orang?” ucapnya mantap.

Pertemuannya dengan Pak Karmani, pelatih sekaligus penjual es krim keliling, menjadi titik balik. Sejak kelas 3 SD, Eifie mulai berlatih atletik. Awalnya, ia hanya mengenakan sepatu sekolah. Ketika hendak ikut kompetisi, keluarga berjuang keras membeli sepatu paku. Ayahnya, dengan tabungan minim, tetap berusaha memenuhi kebutuhan sang anak.

Hasilnya tak sia-sia. Di Kejuaraan Walikota Cup Surabaya, Eifie meraih juara dua nomor lari 200 meter. Sekolah pun memasang banner ucapan selamat. Sejak itu, ia terus berlari—dari kejuaraan daerah hingga nasional, dari lari hingga lompat jauh dan tolak peluru.

Halaman Selanjutnya
img_title