Inovasi IoT Dosen UMY Tingkatkan Produktivitas Budidaya Jamur Merang di Sleman
- Humas UMY
VIVA Jogja - Budidaya jamur merang kerap dianggap mudah karena hanya memerlukan ruang lembap dan gelap. Namun, kenyataannya, banyak petani menghadapi tantangan serius dalam mencapai hasil panen optimal. Salah satunya adalah kelompok tani Kumbung Jamur Merang “Oemah Jamoer” di Wedomartani, Ngemplak, Sleman, yang hanya mampu menghasilkan 90–100 kilogram per siklus, jauh dari target ideal 200 kilogram.
Melihat permasalahan ini, Dr Ir Dwijoko Purbohadi dosen Program Studi Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menghadirkan solusi berbasis teknologi sistem Internet of Things (IoT) untuk budidaya jamur merang.
Sistem IoT Monitoring Lingkungan Kumbung Jamur
“Inovasi ini dirancang untuk memantau tiga faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan jamur merang, yaitu suhu, kelembapan udara, dan intensitas cahaya,” jelas Dwijoko saat diwawancarai pada Sabtu (9/8). Data dari kumbung dikirim setiap 30 menit ke server dan ditampilkan dalam bentuk grafik yang mudah dipahami oleh petani.
Tujuan utama sistem ini bukan menggantikan metode konvensional, melainkan memperkuat pemahaman petani melalui pendekatan edukatif berbasis data. Menariknya, alat ini tidak dirancang untuk penggunaan permanen, melainkan sebagai media pembelajaran agar petani dapat mengenali dan mengatur kondisi lingkungan secara mandiri.
Setelah penerapan sistem IoT, produktivitas jamur merang meningkat drastis hingga mencapai 160 kilogram per siklus. Meski belum menyentuh angka maksimal, peningkatan ini menunjukkan efektivitas pendekatan teknologi dalam mendukung budidaya jamur yang lebih cerdas dan efisien.
Namun, tantangan ekonomi masih membayangi. “Meski petani sudah memiliki keterampilan dan alat pendukung, harga jual jamur yang rendah membuat hasil panen belum layak secara ekonomi,” tambah Dwijoko.
Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa UMY kini dilibatkan dalam pengembangan sistem lanjutan, termasuk aplikasi mobile yang memungkinkan petani mengakses data hanya dengan menempelkan alat di kumbung dan memantau kondisi melalui ponsel. Upaya juga dilakukan agar harga alat menjadi lebih terjangkau bagi petani lokal.
Dengan menggabungkan teknologi IoT dan pemberdayaan masyarakat, Dwijoko berharap tercipta model budidaya jamur merang yang lebih efisien, berkelanjutan, dan adaptif terhadap tantangan lokal.