Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Lewat Inovasi Vaksin Tanpa Jarum Suntik
- istimewa
VIVA Jogja - Inovasi vaksinasi tanpa jarum suntik kembali mendapat sorotan berkat terobosan dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Andari Sarasati, mahasiswa Program Doktor Ilmu Kedokteran Gigi UGM, berhasil mengembangkan sistem penghantar vaksin berbasis mukosa yang mampu meningkatkan respons imun tubuh secara signifikan, tanpa perlu suntikan.
Menjawab Tantangan Vaksinasi Mukosa
Vaksinasi melalui mukosa, seperti rongga mulut, telah lama menjadi alternatif yang lebih nyaman dibandingkan metode suntik. Namun, tantangan utamanya adalah rendahnya respons imun tubuh akibat belum tersedianya adjuvan (zat tambahan untuk meningkatkan efektivitas vaksin yang aman dan efektif untuk jalur ini.
Menjawab kebutuhan tersebut, Andari—yang juga merupakan peserta program fast-track PMDSU—bersama tim peneliti dari UGM dan Acibadem University, Turki, mengembangkan nanopartikel karbonat apatit (CHA) yang dilapisi eksosom, disebut sebagai CHA-EXO. Eksosom merupakan partikel alami yang dilepaskan oleh sel tubuh dan berperan penting dalam komunikasi antar sel.
Inovasi CHA-EXO telah melalui dua tahap pengujian. Pertama, karakteristik nanopartikel diuji berdasarkan ukuran, bentuk, serta kemampuannya membawa protein dan menembus sel tubuh. “Hasilnya menunjukkan bahwa CHA-EXO memiliki ukuran ideal, stabil, dan mudah diserap oleh sel tubuh,” jelas Andari, Kamis (14/08/2025).
Tahap kedua dilakukan di rongga mulut buatan yang disimulasikan dari sel manusia. Hasilnya, partikel CHA-EXO berukuran 100–140 nm mampu menembus lapisan epitel secara bertahap. “Ini membuktikan bahwa CHA-EXO berpotensi menjadi sistem penghantar vaksin yang efektif melalui mukosa mulut,” tambahnya.
Menariknya, CHA-EXO menunjukkan respons imun yang lebih baik dibandingkan adjuvan alumunium yang selama ini digunakan secara injeksi. Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan vaksin oral yang lebih nyaman, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Atas inovasinya, Andari meraih penghargaan Asia Best Innovation Award dari Hitachi Global Foundation. “Dalam studi doktornya, Arin berhasil memperbaiki sifat nanopartikel dan mendekorasinya dengan eksosom,” ujar Prof. Ika Dewi Ana, promotor penelitian.
Prof. Widowati Siswomihardjo turut mengapresiasi riset ini sebagai langkah penting dalam pengembangan vaksin noninvasif. “Penelitian Andari diharapkan dapat mengubah rute vaksin menjadi needle-free dengan adjuvan CHA-EXO yang lebih baik daripada alum, satu-satunya adjuvan yang telah diterima dunia,” tuturnya.