Mahasiswa UMY Raih Juara Nasional Lewat Inovasi Pupuk dari Hama Padi
- Humas UMY
VIVA Jogja - Inovasi tak selalu lahir dari laboratorium. Kadang, ia tumbuh dari lumpur sawah dan semangat anak petani. Itulah yang dibuktikan dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Arief Reksa Pambudi (Prodi Hukum, 2024) dan Aulia Fristi Ningsih (Prodi Akuntansi, 2023), yang berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Business Plan Competition Economic Management Creative di Universitas Negeri Semarang (UNES), pertengahan Agustus lalu.
Dari lebih 300 tim peserta se-Indonesia, Reksa dan Aulia tampil menonjol dengan gagasan bisnis berbasis pertanian berkelanjutan yakni mengolah hama padi berupa keong menjadi pupuk organik cair (biofertilizer) dengan pendekatan circular agriculture.
“Kami ingin mengubah masalah menjadi solusi. Dari hama yang merugikan petani, kami olah kembali menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman padi,” ujar Reksa baru-baru ini.
Dari Sawah ke Panggung Nasional
Ide ini bukan sekadar konsep. Berangkat dari pengalaman pribadi Reksa yang tumbuh di keluarga petani, mereka mulai mengembangkan produk sejak akhir 2024. Melalui program pendanaan P2MW Kemendikti Saintek, keduanya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti BPPSDMP Kementerian Pertanian, Desa Sejahtera Astra, kelompok tani, hingga Kelompok Wanita Tani (KWT).
Dari sisi bisnis, Aulia menyusun analisis finansial yang komprehensif. “Investor lebih percaya jika produk punya proyeksi keuntungan yang jelas. Kami hitung semuanya—biaya produksi, margin, ROI, NPV, hingga IRR. Sejak awal, kami ingin menunjukkan bahwa bisnis ini punya prospek jangka panjang,” jelasnya.
Perjalanan menuju kompetisi bukan tanpa rintangan. Mereka harus melewati seleksi Business Model Canvas (BMC), proposal, dan semifinal daring sebelum tampil di babak final. Proses riset dan pengembangan (R&D) juga memakan waktu dan biaya.
“Satu formulasi pupuk butuh waktu fermentasi sebulan. Uji coba di lahan berbeda bisa berlangsung tiga bulan. Sekali uji coba bisa habis Rp750 ribu. Tapi berkat dukungan tim dan stakeholder, kami bisa bertahan,” kata Reksa.
Aulia pun mengakui tantangan teknis yang dihadapinya sebagai mahasiswa akuntansi. “Awalnya saya ragu karena latar belakang saya bukan di bidang pertanian. Tapi berkat tim yang solid dan kolaborasi dengan banyak pihak, saya tetap semangat. Bisnis itu tidak bisa jalan sendiri, butuh jaringan dan kerja sama,” ujarnya.