Renou: Inovasi Mahasiswa UGM Ubah Limbah Plastik Jadi Mebel Ramah Lingkungan

Mahasiswa UGM ciptakan Start-up Renou
Sumber :
  • Humas UGM

VIVA Jogja - Di tengah krisis sampah yang melanda Yogyakarta, dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan solusi kreatif dan berkelanjutan. Lewat start-up Renou, Alan Putra Wijaya (Manajemen, FEB UGM) dan Muhammad Fikri Iedfi Darmawan (Teknik Infrastruktur Lingkungan, FT UGM) mengolah limbah plastik menjadi produk mebel yang fungsional dan estetis.

img_title Ribuan Warga Manfaatkan Klinik Perizinan dan Investasi DPMPTSP Kota Yogyakarta

Ide Renou berawal dari tugas mata kuliah semester empat yang menyoroti kondisi darurat sampah di Yogyakarta. Alan, yang saat itu mengikuti program kemasyarakatan “Srawung Desa” di lokasi budidaya maggot, terinspirasi oleh semangat warga dalam mengelola sampah secara mandiri. Ia pun menggagas bisnis yang tak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga berdampak sosial dan lingkungan.

“Inovasi pengolahan sampah banyak muncul secara organik di masyarakat, tapi belum ada industri yang fokus pada sampah anorganik,” ujar Alan.

img_title Gotong Royong Bedah Rumah di Semaki, Pemkot Yogyakarta Teguhkan Solidaritas Warga

Limbah HDPE Jadi Produk Bernilai

Renou memfokuskan pengolahan pada jenis plastik High-Density Polyethylene (HDPE), yang umum ditemukan pada kemasan deterjen, botol sampo, dan tutup botol plastik. Proses riset dan pengembangan berlangsung selama empat bulan, mencakup identifikasi jenis plastik, pemilahan, hingga pencarian mitra penyedia limbah.

img_title Lomba Masak Warnai Hari Anak Nasional, Media dan Pemerintah Perkuat Sinergi

Fikri menjelaskan bahwa untuk menghasilkan satu unit produk mebel, dibutuhkan sekitar 10–11 kilogram tutup botol plastik. Tantangan terbesar adalah mengumpulkan bahan baku dalam jumlah besar, yang membutuhkan kerja sama erat dengan pemerintah daerah dan jejaring tempat pembuangan sampah.

“Botolnya tetap kami kirim ke mitra agar tidak menghasilkan limbah baru,” jelas Fikri. “Residu dari proses produksi pun kami olah kembali menjadi barang lain seperti gelang atau kabinet.”

Nama “Renou” lahir dari proses brainstorming tim yang melibatkan teknologi AI. Alan mengakui bahwa nama tersebut merupakan modifikasi dari kata “renew” agar terdengar lebih unik dan mudah diingat. Pilihan ini mencerminkan semangat pembaruan dan keberlanjutan yang menjadi inti dari visi Renou.

Meski masih berstatus mahasiswa, Alan dan Fikri berkomitmen menjaga keberlangsungan bisnis Renou. Mereka harus pandai membagi waktu antara studi dan operasional bisnis, sambil terus membangun jaringan dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Halaman Selanjutnya
img_title