Dosen UMY Temukan Teknik Kendalikan Penetasan Sutra Eri
- Humas UMY
VIVA Jogja - Inovasi baru dalam budidaya ulat sutra hadir dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian UMY Dr Ir Ihsan Nurkomar, berhasil mengembangkan metode sederhana untuk mengendalikan waktu penetasan telur ulat sutra jenis Samia Cynthia Ricini, atau yang dikenal sebagai sutra Eri.
Metode ini memanfaatkan perlakuan suhu rendah pada fase telur, memungkinkan siklus hidup ulat disesuaikan dengan ketersediaan pakan. Telur dapat disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 5 derajat Celsius selama satu hingga lima hari, sehingga waktu penetasan bisa diatur secara fleksibel.
“Inovasi ini sederhana tapi berdampak besar. Peternak bisa menyesuaikan jumlah telur yang ditetaskan dengan kapasitas pakan yang tersedia, sehingga produksi lebih optimal,” ujar Ihsan saat ditemui di Fakultas Pertanian UMY.
Jawaban atas Kendala Produksi
Sutra Eri dikenal sebagai jenis sutra non-murbei yang semakin diminati masyarakat. Meski teksturnya tidak sehalus sutra murbei, kain yang dihasilkan tetap bernilai ekonomi tinggi. Sutra ini juga dijuluki peace silk karena kepompongnya tidak dimatikan saat dipanen.
Dalam praktik budidaya, satu ekor ngengat betina Samia Cynthia Ricini dapat menghasilkan 300 hingga 500 butir telur. Jumlah yang melimpah ini kerap menjadi tantangan bagi peternak, terutama dalam hal penyediaan ruang dan pakan untuk larva yang rakus.
“Secara alami, metabolisme serangga akan melambat jika suhu lingkungannya diturunkan. Prinsip ini yang kami terapkan. Dengan pendinginan singkat, telur tidak langsung menetas bersamaan, tetapi bisa diatur waktunya,” jelas Ihsan.
Keunggulan metode ini terletak pada penerapannya yang praktis dan bebas bahan kimia, berbeda dengan perlakuan pada telur ulat sutra jenis lain seperti Bombyx Mori. Peternak dapat langsung mengaplikasikan teknik ini tanpa prosedur rumit.
Ihsan berharap, temuan ini dapat mendorong keberlanjutan budidaya sutra Eri di Indonesia. Selain meningkatkan daya saing produk sutra lokal, inovasi ini juga berpotensi memperkuat perekonomian masyarakat yang bergerak di industri tenun dan tekstil berbahan alami.