“Celoteh Cah Bulaksumur”: Jejak Kenangan Remaja di Jantung Kampus UGM
- Istimewa
VIVA Jogja - Bulaksumur, kawasan ikonik di jantung Universitas Gadjah Mada, tak hanya dikenal sebagai pusat akademik, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan yang hangat dan penuh cerita. Di sisi timurnya, berdiri kompleks perumahan dosen UGM yang dahulu menjadi tempat tumbuh kembang anak-anak keluarga akademisi. Beberapa rumah masih dihuni, sementara lainnya telah beralih fungsi menjadi kantor. Siapa sangka, kawasan ini pernah menjadi tempat tinggal masa kecil bagi tokoh dunia seperti Barack Obama.
Pekan lalu sebanyak 41 anak dari keluarga dosen yang pernah tinggal di kompleks tersebut meluncurkan sebuah buku antologi berjudul Celoteh Cah Bulaksumur di Museum UGM. Buku setebal 412 halaman ini memuat 93 esai yang merekam kehidupan remaja di Bulaksumur antara tahun 1965 hingga 1985 sebuah potret nostalgia yang menghidupkan kembali suasana hangat, sederhana, dan penuh kebersamaan di masa itu.
Editor buku, Sri Rudiatin Siswanto yang akrab disapa Tenong menjelaskan bahwa para penulis menuturkan kenangan masa kecil mereka dengan penuh kehangatan. Dari bermain di lorong-lorong perumahan, bersekolah di SMA sekitar Yogyakarta, hingga pengalaman kuliah di UGM, semuanya dirangkai menjadi narasi yang membentuk “album foto hidup” dari masa lalu. “Siapa pun yang tumbuh di Yogyakarta era 60-an hingga 80-an akan merasa seperti pulang kampung saat membaca buku ini,” ujarnya.
Meski ditulis oleh generasi yang tumbuh di masa lampau, nilai-nilai yang diangkat tetap relevan: solidaritas, persahabatan, dan kegembiraan yang lahir dari kesederhanaan. Tenong berharap generasi muda bisa belajar dari semangat zaman itu, di mana kebahagiaan tak bergantung pada teknologi, melainkan pada interaksi manusia yang tulus.
Guru Besar FIB UGM, Prof Dr Heddy Shri Ahimsa-Putra, menyebut buku ini sebagai “biografi kolektif” yang merekam kehidupan komunitas intelektual di Bulaksumur. “Ini bukan sekadar kumpulan cerita, tetapi bentuk penghormatan kami kepada bapak dan ibu yang telah membesarkan kami di lingkungan penuh nilai,” tuturnya.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho turut menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menekankan pentingnya pelestarian kawasan Bulaksumur sebagai warisan kampus, sejajar dengan Balairung dan Museum UGM. “Saya yakin isi buku ini sangat menarik, karena menggambarkan era yang sangat berbeda dengan masa kini,” katanya.