Tradisi Lubuk Larangan di Batang Toru: Menjaga Sungai, Menyelamatkan Jurung Ikan Lokal Endemik Tapsel dari Kepunahan

Masyarakat Panen Ikan Jurung di Lubuk Larangan Batang Toru
Sumber :
  • VIVA Jogja/dok-PTAR

Garoga, VIVA Jogja – Di tepi sungai-sungai Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel), hidup sebuah tradisi lama yang kembali berdenyut: Lubuk Larangan. Sebuah aturan adat yang menahan hasrat masyarakat untuk menangkap ikan sesuka hati, demi memberi kesempatan ikan—khususnya jurung, sejenis ikan lokal endemik—untuk berkembang biak.

img_title Agincourt Resources Sampaikan Duka Mendalam Bencana Tapanuli Selatan

Tradisi itu menemukan napas baru. PT Agincourt Resources (PTAR) – pengelola tambang emas Martabe, melalui program konservasinya ikut memperkuat kembali Lubuk Larangan. Upaya ini bukan hanya soal menjaga ikan, tetapi juga melestarikan kearifan lokal, lingkungan, hingga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Menurut Sugeng Maskat, Superintendent Community Relations PTAR, jalan menjaga keberlanjutan Lubuk Larangan tidaklah mulus. “Kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan, terutama soal menjaga kebersihan sungai dari sampah plastik,” ujar Sugeng, kepada VIVA Jogja, Kamis (2/10/2025).

img_title Stefy Thenu Raih Juara Harapan di Lomba Karya Jurnalistik ESG Tambang Berkelanjutan 2025

Tantangan lain datang dari keterbatasan lembaga adat dalam melakukan pengawasan hingga ke perbatasan sungai, apalagi pada malam hari. Akibatnya, sesekali masih terjadi pencurian ikan. Musim hujan juga membawa tantangan tersendiri. “Anakan ikan jurung bisa hanyut terbawa arus deras, bermigrasi, bahkan mati,” lanjutnya.

Sementara di sisi sosial, masyarakat cenderung tergoda membuka lubuk terlalu cepat untuk panen, sehingga ikan belum sempat berkembang biak dengan baik. Faktor politik lokal pun tidak kalah berpengaruh. Kekalahan calon kepala desa dapat membuat lembaga adat terpinggirkan, yang ujungnya merusak konsistensi Lubuk Larangan. Ditambah praktik overfishing saat panen, populasi jurung kerap terancam.

img_title Pergulatan Srikandi Aek Pining, Menenun Identitas Tapanuli Selatan Lewat Kain Batik

Replikasi dan Dukungan Teknologi BioFAD

Meski penuh tantangan, program konservasi terus diperluas. PTAR bersama masyarakat melakukan replikasi BioFAD—alat ramah lingkungan yang menyerupai habitat alami ikan—ke desa-desa sekitar. “Tahun ini, replikasi sudah dilakukan di Desa Padang Lancat dan Desa Hapesong Perkebunan,” kata Sugeng.

Program ini dirancang berbasis musyawarah desa. Masyarakat sepakat membentuk lembaga adat, kepengurusan, dan keanggotaan yang kemudian dikuatkan melalui peraturan desa (perdes). Kesepakatan bersama menjadi benteng moral sekaligus hukum agar warga patuh.

Bagi masyarakat Batang Toru, Lubuk Larangan bukan barang baru. “Desa Garoga, Hapesong Lama, Batuhula, dan Aekngadol sudah merasakan manfaatnya,” jelas Sugeng.

Halaman Selanjutnya
img_title