Mahasiswa UGM Wakili Indonesia di UNESCO Field School Tiongkok, Bahas Warisan Budaya dan Iklim

Unesco -NUS-SEU Field School 2025
Sumber :
  • Dok Humas UGM

 

img_title Yogya Jadi Percontohan Penataan Kabel Fiber Optik, Jaga Estetika dan Warisan Budaya

VIVA Jogja - Dalam upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang pelestarian warisan budaya, Vanya Putri Damayanti, mahasiswa Magister Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), terpilih sebagai salah satu peserta dalam program bergengsi Unesco -NUS-SEU Field School 2025. Bertema “Cultural Heritage and Climate Change in Asia: Impacts, Adaptation, and Mitigation”, kegiatan ini berlangsung di Nanjing dan Yangzhou, Tiongkok, pada 20–28 September 2025.

Field school ini mempertemukan 29 mahasiswa dari tujuh universitas terkemuka di Asia, termasuk UGM, Ritsumeikan University (Jepang), Korea National University of Heritage, Universitas Malaya (Malaysia), dan Silpakorn University (Thailand). Mereka mengikuti serangkaian kuliah tematik, lokakarya, serta kunjungan lapangan ke situs bersejarah seperti Grand Canal dan Dongguan Garden Residences.

img_title Festival Geopark Night Specta dan Cokelat Gunungkidul Jadi Simbol Sinergi Pariwisata dan Pertanian

“Setiap sesi sangat kaya wawasan, karena diisi oleh profesor dan praktisi dari berbagai negara dengan sudut pandang yang beragam,” ujar Vanya baru-baru ini.

Vanya berhasil lolos seleksi ketat melalui esai dan wawancara, mewakili UGM dalam forum internasional tersebut. Ia mengaku kegiatan ini memperluas pemahamannya tentang manajemen risiko dalam konservasi bangunan bersejarah, sekaligus memperkuat jejaring lintas negara.

img_title Prambanan Jadi Simbol Diplomasi Budaya, Prabowo-Modi Resmikan Kolaborasi Restorasi

Salah satu kontribusi penting Vanya dalam program ini adalah presentasi studi kasus Auspicious House atau Liu Xiang House di Dongguan Street, Yangzhou. Bersama tim internasional, ia melakukan observasi langsung, berdialog dengan pemilik rumah, dan menilai nilai sejarah, sosial, serta ekonomi bangunan tersebut. Mereka juga menyusun disaster imagination game dan melakukan hazard and climate assessment untuk mengidentifikasi potensi risiko terhadap bangunan heritage.

Pengalaman lintas budaya menjadi momen paling berkesan bagi Vanya. Ia belajar berkolaborasi dengan peserta dari latar belakang akademik yang beragam dan memahami peran masyarakat lokal dalam menjaga warisan budaya.

“Diskusi lintas negara membuka cara pandang baru tentang bagaimana melindungi heritage di tengah tantangan perubahan iklim,” tuturnya.

Dalam kegiatan ini, Vanya juga mendapat bimbingan langsung dari Dr. Laretna T. Adhisakti, dosen pembimbingnya di UGM, yang turut menjadi pengajar dalam sesi bertema indigenous local knowledge. Kehadiran beliau menjadi sumber motivasi dan panduan akademik yang sangat berarti bagi Vanya.

Halaman Selanjutnya
img_title