Fitri Amalia Raih Anugerah Ilmuwan Muda Terbaik Bidang Inovasi Sosial Humaniora
- DOK Humas UGM
VIVA Jogja – Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Yogyakarta, Dr Fitri Amalia, meraih penghargaan Ilmuwan Muda Terbaik Bidang Inovasi Sosial Humaniora dalam ajang Anugerah Diktisaintek 2025. Penghargaan bergengsi ini diserahkan pada rangkaian acara yang berlangsung di Graha Dikti, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, pada 18–20 Desember 2025.
Fitri dinilai berhasil menghadirkan inovasi yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. Dua karya utama yang mengantarkannya meraih penghargaan adalah aplikasi Sistem Informasi Debit-Kredit Enterprise Resource Planning (SIDEK-ERP) dan Gadjah Mada Digital Transformation Governance Index (GM-DTGI). SIDEK-ERP dikembangkan sejak 2023 bersama tim dosen dan peneliti di Bidang Kajian Sistem Informasi FEB UGM dengan dukungan Coca-Cola Europacific Partners. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pelaku UMKM menyusun laporan keuangan secara praktis, sekaligus meningkatkan literasi akuntansi digital bagi siswa dan mahasiswa. Hingga kini, lebih dari seribu pengguna di berbagai daerah telah memanfaatkan aplikasi tersebut dan merasakan manfaatnya dalam pengelolaan bisnis.
Dalam penjelasannya, Fitri menekankan bahwa UMKM memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi tantangan besar dalam hal pencatatan keuangan dan akses pembiayaan. SIDEK-ERP hadir sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi kesalahan administratif, dan mempercepat pengambilan keputusan berbasis data. Lebih jauh, sistem ini juga menjadi sarana pembelajaran akuntansi digital yang mudah diakses dan terjangkau bagi pelajar maupun mahasiswa.
Selain itu, Fitri bersama timnya juga mengembangkan GM-DTGI, sebuah indeks yang digunakan untuk menilai dan memperkuat tata kelola transformasi digital pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kota. Berbeda dengan indeks digital global yang berfokus pada level negara, GM-DTGI menjadi instrumen pertama di Indonesia yang secara khusus menilai kesiapan dan implementasi transformasi digital di level lokal. Penilaian dilakukan melalui 50 indikator komprehensif yang mencakup aspek tata kelola, kebijakan, ekosistem digital, hingga keamanan siber. Data dikumpulkan melalui penelusuran situs resmi pemerintah, verifikasi instansi terkait, serta klarifikasi langsung bersama pemerintah daerah.
Fitri menuturkan bahwa kebanggaan terbesar dari inovasi yang dikembangkan bukan hanya pada sistem atau indeks yang dihasilkan, melainkan pada perubahan nyata yang dirasakan masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana pelaku UMKM kini mampu memahami laporan keuangan mereka sendiri, siswa SMK di Teluk Bintuni dapat mempresentasikan proses bisnis ERP dengan percaya diri, hingga pemerintah daerah yang terbantu dalam menata prioritas transformasi digital secara lebih terarah. Testimoni positif tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa ilmu dan riset dapat benar-benar berdampak sosial.