Bisnis Keluarga di Persimpangan Regenerasi: Antara Keberlanjutan dan Inovasi
- Dok FEB UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Istilah family business sering diasosiasikan dengan usaha kecil yang dikelola secara tradisional, seperti toko kelontong atau warisan turun-temurun. Namun, kenyataannya bisnis keluarga memiliki peran jauh lebih besar dalam perekonomian global. Data menunjukkan sekitar 75–80 persen bisnis di dunia dimiliki oleh keluarga, mencakup skala usaha dari kecil hingga multinasional.
Dosen Departemen Manajemen Universitas Gadjah Mada, Rocky Adiguna, menegaskan bahwa bisnis keluarga tidak identik dengan ketidakprofesionalan. Dalam program 360 Episode Manajemen bertajuk Why Family Businesses Are Decimating in the New Generation, ia menjelaskan bahwa banyak merek global yang beroperasi lintas negara justru merupakan perusahaan keluarga dengan tata kelola yang kuat. “Kontribusi mereka sangat signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara,” ujarnya.
Rocky memperkenalkan Three Circles Model untuk memahami keunikan bisnis keluarga. Model ini menempatkan keluarga, bisnis, dan kepemilikan dalam lingkaran yang saling beririsan. Anggota keluarga bisa berperan sebagai pemilik, manajer, maupun karyawan, sehingga kompleksitas muncul bila pengelolaan tidak diatur dengan baik.
Tantangan terbesar, menurut Rocky, muncul saat bisnis memasuki fase transisi antar generasi. Pepatah Cina “Fu bu guo san dai” menggambarkan bahwa banyak bisnis keluarga gagal bertahan hingga generasi ketiga. Statistik pun mendukung: hanya 30 persen yang berlanjut ke generasi kedua, dan sekitar 12 persen bertahan hingga generasi ketiga.
Meski demikian, ada pula contoh perusahaan keluarga yang mampu bertahan lintas generasi. Di Jepang, Hoshi Ryokan telah dikelola selama 47 generasi sejak abad ke-13. Zamil Group di Arab Saudi kini memasuki generasi kelima, sementara Antinori di Italia bertahan hingga 25 generasi. Di Indonesia, Ayam Goreng Mbok Berek di Yogyakarta tetap eksis hingga enam generasi berkat kesepakatan keluarga terkait penggunaan merek di setiap cabang.
Namun, tidak semua kisah berakhir manis. Jamu legendaris Nyonya Meneer yang berdiri sejak 1919 berhenti beroperasi pada 2017. Perusahaan kopi Margo Redjo di Semarang juga mengalami pasang surut akibat perubahan zaman, meski kini berupaya bangkit dengan menjadikan sejarah dan tradisi sebagai daya saing.