UGM Kukuhkan 205 Dokter Hewan Baru, Perkuat Peran Profesi di Era Ketahanan Pangan
- Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan capaian penting dengan melantik 205 dokter hewan baru di Grha Sabha Pramana. Dari jumlah tersebut, 49 pria dan 156 wanita resmi menyandang gelar profesi, sehingga total alumni FKH UGM kini mencapai 6.611 orang yang telah mengabdi di berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Pelantikan ini menjadi momentum berharga bagi dunia kesehatan hewan dan ketahanan pangan nasional. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si., menegaskan bahwa profesi dokter hewan semakin strategis, terutama dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Menurutnya, peningkatan konsumsi protein hewani melalui MBG mampu menekan gejolak harga pangan, sekaligus membuka ruang kerja yang lebih luas bagi para dokter hewan di industri pengolahan produk hewani dan nabati.
Sekretaris Jenderal PB PDHI, Dr. drh. Andi Wijanarko, M.M., mengingatkan para lulusan agar tetap berpegang pada kode etik profesi, menjaga solidaritas, serta konsisten memperbarui ilmu pengetahuan. Ia menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater dan menyiapkan diri untuk mengabdi di seluruh pelosok negeri. Sementara itu, Ketua Gamavet, Dr. drh. Teuku Sahir Syahali, M.M., mendorong para dokter hewan muda untuk terus bermimpi besar, mengembangkan diri, dan bekerja keras demi meraih cita-cita.
Dekan FKH UGM, Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Ph.D., melaporkan bahwa rata-rata masa studi lulusan kali ini adalah 5 tahun, 8 bulan, 11 hari. Lulusan terbaik diraih oleh drh. Rana Ayuningyas Adhi Puspita dengan Indeks Predikat Kumulatif 3,96.
Kehadiran ratusan dokter hewan baru ini menambah kekuatan profesi yang masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Data PB PDHI 2024 mencatat jumlah dokter hewan aktif di Indonesia sekitar 12.000 orang, dengan rasio satu dokter hewan untuk melayani sekitar 30.000 ekor ternak besar. Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan tenaga profesional di lapangan. Padahal, sektor peternakan menyumbang lebih dari 13 persen terhadap PDB pertanian nasional, menjadikan peran dokter hewan vital dalam menjaga kesehatan hewan, keamanan pangan, serta mendukung ekspor produk hewani.