Kisah Manuel Vong: Dari Anak Penjual Roti hingga Menteri dan Rektor di Timor-Leste
- Dok Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Perjalanan hidup Manuel Vong, Ph.D., Ketua Kagama Timor-Leste, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Lahir dari keluarga sederhana di Samoro, Soibada, Timor-Leste, Manuel pernah bekerja sebagai sopir taksi dan penjual roti sebelum menapaki jenjang pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari kampus inilah ia meraih bekal ilmu yang kelak mengantarkannya menjadi Menteri Pariwisata Timor-Leste sekaligus Rektor Dili Institute of Technology (DIT).
Manuel menempuh studi Magister Administrasi Publik di UGM. Ia mengaku pengalaman kuliah di kampus tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. “Kami diasah, diasuh, dan diasih oleh Prof. Sofian Effendi, Prof. Warsito, serta para profesor lainnya yang hebat. Seorang anak petani, sopir taksi, dan penjual roti bisa menjadi seperti ini,” ujarnya saat memberi sambutan pada wisuda Pascasarjana UGM.
Selepas lulus, Manuel kembali ke Timor-Leste untuk mengabdi. Kariernya menanjak hingga dipercaya sebagai Menteri Pariwisata. Terinspirasi dari UGM, ia bersama rekan-rekannya mendirikan Dili Institute of Technology, sebuah kampus dengan motto Educated to Serve atau Dididik untuk melayani. Ia pun sempat menjabat sebagai Rektor di kampus tersebut.
Dedikasi untuk Pendidikan
Menurut Manuel, ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh dari UGM menjadi bekal penting dalam kontribusinya di bidang pendidikan. “Saya bisa melihat realita kehidupan secara langsung dan menyusun cara agar dapat menerapkan visi yang memberikan manfaat pada masyarakat, dengan tetap memegang teguh prinsip Kagama: Guyub, Rukun, Migunani,” ungkapnya.
Sebagai Rektor DIT, Manuel berkomitmen membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi masyarakat Timor-Leste. Ia berharap lulusan kampus tersebut dapat memiliki profesionalitas sesuai bidangnya dan memperoleh pekerjaan yang layak.
Kini, Manuel menjabat sebagai Ketua Kagama Timor-Leste sekaligus Direktur Program Doctor of Business Administration di DIT. Ia menyebut jumlah alumni UGM di Timor-Leste mencapai lebih dari 3.000 orang. Melalui Kagama, ia berupaya memperkuat kerja sama antara UGM dan pemerintah Timor-Leste, termasuk dalam program pengabdian masyarakat seperti Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di wilayah perbatasan Indonesia–Timor-Leste.