Kisah Fara, Putri Asli Papua Lulusan Pertama Profesi Psikolog SCU Semarang yang Ingin Pulang Mengabdi

Fara Keey usia menerima ijazah S1 Psikologi SCU Semarang
Sumber :
  • ist

SEMARANG, VIVA Jogja - Sebanyak 47 calon psikolog lulusan angkatan pertama Pendidikan Profesi Psikolog Soegijapranata Catholic University atau SCU resmi diambil sumpah profesinya.  

img_title Gen Z Harus Tahu! Modus Rekrut Radikalisme Kini Masuk Dunia Game

Prosesi pengambilan sumpah profesi psikolog SCU angkatan pertama tersebut digelar di Kota Semarang, Kamis 29 Januari 2026.  

Di antara puluhan lulusan itu, perhatian tertuju pada sosok putri asli Papua Pegunungan asal Wamena bernama Faradiba Anugrah Kaay.  

img_title UKSW dan Unika Soegijapranata: Dominasi Jawa Tengah di Campus League dan Harapan Menuju Nasional

Fara, begitu ia akrab disapa, menjadi simbol lahirnya psikolog-psikolog muda dengan misi pengabdian yang kuat.  

Kisah Fara, putri asli Papua lulusan angkatan 1 Profesi Psikolog SCU, bermula dari kegelisahannya melihat kondisi tanah kelahiran.  

img_title Kapolda DIY Terima Pemred Award, Wujud Transparansi Informasi Publik

Ia mengaku tergerak menempuh pendidikan profesi psikolog karena Papua Pegunungan masih sangat kekurangan tenaga pendamping kesehatan mental.  

“Saya lulus S1 dari UKSW, kemudian sempat kerja di Papua, tapi melihat kondisi di sana hati saya tergerak untuk mengambil profesi psikologi,” kata Fara di Kampus SCU Bendan, Semarang. 

Fara Keey menerima ijazah S1 Psikologi SCU Semarang

Photo :
  • ist

Menurut Fara, wilayah Papua Pegunungan yang terdiri dari delapan kabupaten nyaris tidak memiliki psikolog.  

“Di sana hanya ada satu psikiater, itu pun jelas sangat kurang,” ujarnya.  

Fara menilai kondisi tersebut berisiko karena pendekatan kesehatan mental tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan.  

“Kalau ke psikiater, solusinya sering kali obat, padahal banyak kasus butuh pendampingan psikolog,” tuturnya.  

Ia mencontohkan realitas yang ia temui langsung di Papua Pegunungan.  

“Ada anak kelas 4 SD yang sudah konsumsi ganja, lalu kasus gangguan mental lain yang sebenarnya bisa dicegah kalau ada pendampingan,” katanya.  

Menurut Fara, persoalan kesehatan mental di Papua Pegunungan tidak bisa dilepaskan dari sejarah konflik yang panjang.  

“Wamena itu daerah konflik, jadi bukan hanya pembangunan fisik yang penting, pembangunan non-fisik juga sangat dibutuhkan,” ujarnya.  

Kesadaran itulah yang mendorong Fara kembali ke Jawa Tengah untuk menempuh pendidikan Profesi Psikolog di SCU.  

SCU sendiri merupakan satu dari 19 perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog.  

Fara tercatat sebagai mahasiswa angkatan pertama Prodi Profesi Psikologi SCU pada semester genap tahun akademik 2023/2024.  

Halaman Selanjutnya
img_title