Festival Rao Rayo 2026 Angkat Tradisi Pesisir Pulau Rao
- Istimewa
VIVA Jogja – Pelabuhan Desa Posi-Posi, Kecamatan Pulau Rao, Kamis (5/2), berubah menjadi panggung budaya terbuka saat Festival Rao Rayo 2026 mencapai puncaknya. Denting alat musik tradisional dan lantunan lagu daerah menggema sejak sore hari, menandai perhelatan tahunan yang kini memasuki tahun ketiga.
Mengusung tema “Celebrating Coastal Cultural Traditions”, festival ini menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi dalam merawat tradisi pesisir sebagai identitas sekaligus modal pembangunan. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit “Kita Morotai” yang sejak 2025 mendorong penguatan potensi budaya dan ekonomi lokal di wilayah perbatasan tersebut.
Tak hanya Desa Posi-Posi Rao, festival melibatkan partisipasi lima desa di Kecamatan Pulau Rao, yakni Saminyamau, Leo-Leo, Aru Burung, dan Lou Madoro. Kolaborasi lintas desa itu terlihat dari pawai budaya yang membuka rangkaian acara. Warga mengenakan busana adat sambil menampilkan tarian tradisional sepanjang rute dari kantor desa menuju panggung utama di area pelabuhan.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM, Atrida Hadianti, menegaskan bahwa festival bukan sekadar agenda wisata. Menurutnya, kegiatan ini menjadi simbol persatuan sekaligus wujud nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika di tingkat lokal. Ia berharap sinergi yang terbangun selama tiga periode KKN dapat terus berlanjut demi menjaga warisan leluhur Pulau Rao.
Apresiasi juga disampaikan Camat Pulau Rao yang menilai kebudayaan memiliki nilai strategis bagi perekonomian masyarakat. Ia menyebut generasi muda perlu didorong untuk bangga terhadap identitas daerahnya agar potensi wisata budaya semakin berkembang.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, menyatakan penyelenggaraan festival yang konsisten hingga tahun ketiga menunjukkan komitmen kuat dalam pemberdayaan masyarakat. Pemerintah daerah, kata dia, mendukung penuh kegiatan yang memperkuat jati diri lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Sepanjang sore hingga malam, panggung utama diisi beragam pertunjukan. Tari Petik Cengkih, Tari Toki Gaba, serta Tari Lesung atau Dudutu tampil memikat, menggambarkan hubungan erat masyarakat dengan alam dan tradisi agraris. Kompetisi musik tradisional Yanger menjadi salah satu agenda yang paling dinanti. Setiap kelompok desa menampilkan aransemen dan vokal terbaiknya, dengan penilaian meliputi kekompakan, penguasaan bahasa daerah, hingga penghayatan di atas panggung.