Indonesia Siapkan Hilirisasi Logam Tanah Jarang, Tantangan Teknologi Jadi Sorotan
- Dok UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Indonesia kini menatap peluang besar dalam pengembangan logam tanah jarang (LTJ), mineral strategis yang semakin dibutuhkan dunia di tengah dinamika geopolitik global. LTJ dikenal sebagai bahan vital untuk berbagai teknologi mutakhir, mulai dari mesin jet tempur, pesawat komersial, sistem senjata rudal, hingga perangkat elektronik, satelit, dan komunikasi modern. Pemerintah Republik Indonesia pun telah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) sebagai lembaga koordinasi riset dan kebijakan terkait mineral kritis ini. Langkah tersebut menandai keseriusan negara dalam mengelola sumber daya yang dipandang sebagai kekayaan strategis sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
Data awal menunjukkan terdapat sedikitnya delapan lokasi potensial LTJ di Indonesia, tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Temuan ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta mineral global, terutama ketika permintaan LTJ meningkat pesat seiring transisi energi dan perkembangan teknologi hijau. LTJ kini menjadi bahan utama untuk baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga panel surya. Ketergantungan dunia terhadap Tiongkok yang menguasai lebih dari 60 persen pasokan LTJ global membuat banyak negara mencari alternatif sumber, dan Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemain penting.
Dosen Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Eng Ir Lucas Donny Setijadji, menuturkan bahwa riset LTJ di Indonesia bukanlah hal baru. Ia sendiri telah meneliti mineral ini sejak 2008 melalui proyek kerja sama Indonesia–Jepang yang didanai JICA. Menurutnya, para peneliti sudah lama menaruh perhatian pada LTJ, namun riset ini memang membutuhkan perjalanan panjang. Momentum global berubah drastis ketika Tiongkok membatasi ekspor LTJ pada awal 2010-an. Kebijakan itu memicu kekhawatiran negara industri seperti Jepang yang sangat bergantung pada pasokan LTJ untuk sektor teknologi. Sejak saat itu, eksplorasi LTJ digencarkan di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara dan Afrika, dengan Jepang menjadi salah satu promotor utama riset melalui pendanaan penelitian dan beasiswa.
Lucas menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar, tetapi masih berada pada tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian. Berbeda dengan emas dan tembaga yang sudah diproduksi masif, LTJ belum memiliki izin usaha pertambangan khusus. Pemerintah memilih pendekatan hati-hati karena mineral ini berasosiasi dengan unsur radioaktif dan membutuhkan teknologi ekstraksi yang sangat spesifik. Negara tetangga seperti Vietnam, Laos, dan Myanmar sudah lebih dulu memproduksi LTJ. Indonesia relatif tertinggal, namun hal itu juga karena kehati-hatian kebijakan pemerintah. Menurut Lucas, kehati-hatian ini penting karena LTJ adalah komoditas strategis yang menyangkut kedaulatan energi dan teknologi.