UMY Dorong Ekonomi Sirkular, Minyak Jelantah Disulap Jadi Sabun Ramah Lingkungan

UMY hibahkan barang pengabdian pada Ketua Dewi Kajii
Sumber :
  • Humas UMY

BANTUL, VIVA Jogja   Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan inovasi berbasis masyarakat. Melalui program pengabdian bertajuk Agile Wastepreneurship: Dari Sampah Menjadi Berkah, tim dosen UMY mengajak warga Desa Wisata Kaji (Dewi Kajii), Desa Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, untuk mengolah limbah minyak jelantah menjadi sabun bernilai jual.

img_title Pelajar Jogja Jadi Penentu Masa Depan, Sekda DIY Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja

Kegiatan ini berlangsung pekan lalu, dipimpin dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UMY Dr Helen Dian Fridayani.  Dikatakan, minyak jelantah yang sering kali dibuang sembarangan dapat menimbulkan pencemaran serius terhadap tanah dan air. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, limbah tersebut justru bisa diubah menjadi produk ramah lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.

“Pengelolaan limbah harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi lokal yang adaptif dan berkelanjutan. Minyak jelantah yang dianggap tidak berguna, ternyata bisa menjadi sabun dengan nilai tambah ekonomi,” ujar Helen saat dihubungi, Selasa (03/03/2026).

img_title Disdikpora DIY Tegaskan Larangan Jual Beli Seragam di Sekolah Negeri

Dalam workshop, peserta tidak hanya diajarkan teknik dasar pembuatan sabun, mulai dari penyaringan minyak, pencampuran dengan larutan alkali sesuai standar keamanan, hingga pencetakan dan pengeringan. Mereka juga dibekali pengetahuan tentang pengemasan, penentuan harga, serta strategi pemasaran berbasis komunitas maupun digital. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu memproduksi sabun, tetapi juga siap memasarkan produk tersebut secara lebih luas.

Helen menegaskan bahwa konsep wastepreneurship yang diusung UMY bertujuan mengubah pola pikir masyarakat. Dari sekadar pengelola limbah, mereka diarahkan menjadi pelaku usaha berbasis inovasi lingkungan. “Model ini berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi desa sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

img_title Pemda DIY Tindaklanjuti Polemik Apresiasi Seni Anak dengan Evaluasi Menyeluruh

Ketua Dewi Kajii menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, workshop membuka perspektif baru bahwa limbah rumah tangga memiliki potensi ekonomi jika dikelola secara kreatif. “Kami melihat peluang besar untuk menjadikan sabun dari minyak jelantah sebagai produk unggulan desa wisata,” katanya.

Program ini mendapat dukungan penuh dari Direktorat Riset dan Pengabdian UMY, dengan masa pendampingan hingga akhir 2026. Harapannya, unit usaha berbasis pengelolaan limbah dapat tumbuh secara replikatif di berbagai desa lain, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Gilangharjo, tetapi juga meluas ke wilayah lain di Bantul dan DIY.

Halaman Selanjutnya
img_title