Kotabaru Yogyakarta, Kawasan Kolonial yang Berubah Jadi Saksi Sejarah Bangsa

Kotabaru
Sumber :
  • VIVA Jogja/kebudayaan.jogjaprov.go.id

VIVA Jogja - Deretan bangunan tua dengan halaman luas dan pepohonan rindang menyambut setiap langkah di kawasan Kotabaru Yogyakarta. Jalan-jalannya lebar, arsitekturnya megah, dan suasananya terasa berbeda dari kampung tradisional di sekitarnya.

img_title Sengketa Sewa di Kadipaten Berujung Pembongkaran Bangunan

Kawasan ini bukan sekadar lingkungan permukiman, melainkan potongan sejarah kota Yogyakarta yang lahir dari dinamika kolonial, pendidikan, hingga perjuangan kemerdekaan. Kotabaru pada awalnya dikenal dengan nama Nieuwe Wijk atau kawasan baru.

Permukiman ini muncul sebagai konsekuensi dari meningkatnya jumlah warga Eropa, terutama Belanda, yang tinggal di Yogyakarta pada awal abad ke-20. Pertumbuhan tersebut dipicu oleh berkembangnya industri gula, perkebunan, serta hadirnya kalangan profesional di bidang pendidikan, kesehatan, dan perdagangan.

img_title Perguruan Tinggi dan Pemkot Yogyakarta Bersinergi Tata Kawasan Code

Untuk menata permukiman bagi warga Eropa, Residen Belanda saat itu, A. J. C. Canne, mengajukan permohonan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono VII agar disediakan lahan khusus di sebelah timur Sungai Code.

Permohonan tersebut disetujui, dan pengaturan pembangunan kawasan baru ini kemudian dituangkan dalam Rijksblad van Sultanaat Djogjakarta No. 12 Tahun 1917. Proyek pembangunan Kotabaru dimulai pada 1917 dan rampung sekitar 1920.

img_title Pameran TATAH 2026 Hadirkan Jejak Panjang Budaya Ukir Jepara

Penataan kawasan dilakukan secara modern pada masanya, dengan pengawasan Komisi Pekerjaan Kasultanan yang dipimpin oleh insinyur Belanda, Ir. L. VR. Bijleveld. Hasilnya adalah kawasan permukiman yang tertata rapi dengan jalan lebar, taman kota, serta sistem drainase yang terhubung langsung ke Sungai Code.

Ciri khas bangunan di Kotabaru juga berbeda dengan rumah tradisional Jawa. Rumah-rumah dirancang besar dan tinggi dengan halaman luas, jendela serta pintu lebar berkrepyak, langit-langit tinggi, teras terbuka, dan hiasan kaca timah yang memperindah interiornya.

Selain menjadi kawasan hunian, Kotabaru juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Salah satunya adalah gereja. Pada 1922, komunitas Kristen Belanda membangun Gereja Gereformeerd Kerk Yogyakarta yang diresmikan pada 1923.

Gereja yang berada di Sultan Boulevard—kini Jalan I Dewa Nyoman Oka—saat ini digunakan oleh jemaat Huria Kristen Batak Protestan. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1926, berdiri pula Gereja Santo Antonius Kotabaru.

Gereja Katolik ini diprakarsai oleh pastor Jesuit, Romo F. Strater dan Romo J. Hoeberecht, setelah sebelumnya kegiatan ibadah umat Katolik Belanda dilakukan di rumah pribadi milik Perquin. Fasilitas kesehatan juga berkembang di kawasan ini.

Halaman Selanjutnya
img_title