20 Teknisi Laboratorium UMY Raih Sertifikasi BNSP, Bukti Komitmen Tingkatkan Mutu
- Dok UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas tenaga laboratorium. Sebanyak 20 teknisi laboratorium resmi menerima sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) setelah melalui serangkaian pelatihan dan uji kompetensi. Sertifikasi ini terlaksana berkat kerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah serta dukungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Muhammadiyah.
Sertifikasi ini bukan hanya sekadar dokumen, melainkan bukti profesionalitas yang diakui secara nasional.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Prof Dr Dyah Mutiarin, dalam sambutannya menekankan bahwa peningkatan kompetensi tidak mengenal batas usia. Ia mengingatkan bahwa pengalaman tenaga senior adalah aset berharga yang tidak bisa digantikan. “Yang tua itu pernah muda, tetapi yang muda belum pernah tua. Jadi jangan takut menjadi tua. Pengalaman tidak bisa dibeli dan tidak bisa dijual karena diperoleh melalui proses belajar dan praktik langsung,” ujarnya.
Dyah juga menyoroti pentingnya sinergi antara generasi muda dan senior di lingkungan kerja. Menurutnya, tenaga muda memiliki kecepatan, sementara tenaga senior membawa ketelitian dan pengalaman. “Jika keduanya dikombinasikan, itu akan menjadi kekuatan yang sangat baik dalam bekerja,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Direktorat Inovasi dan Hilirisasi UMY, Dr. Ir. Novi Caroko, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa sertifikasi ini merupakan bagian dari skema peningkatan kualitas laboratorium. Ia berharap para teknisi yang telah tersertifikasi dapat bekerja lebih efektif dan akurat. “Harapannya setelah mereka tersertifikasi, kinerja mereka menjadi lebih baik. Pengujian dapat dilakukan lebih cepat dan lebih akurat, sehingga pengguna layanan laboratorium juga semakin puas,” jelasnya.
Novi menegaskan bahwa sertifikasi tenaga laboratorium adalah langkah penting menuju pengembangan standar laboratorium yang lebih tinggi. Hal ini juga menjadi prasyarat ketika laboratorium mengarah pada sertifikasi internasional seperti ISO maupun akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). “Secara bertahap seluruh laboran akan kami sertifikasi. Ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan laboratorium,” ungkapnya.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh para peserta. Salah satunya, Isna Qurrotu Aini, S.P., mengaku bangga setelah menerima sertifikat kompetensi. “Alhamdulillah tentu senang, karena sebagai laboran perlu memiliki bukti kompetensi, salah satunya melalui sertifikasi ini,” ujarnya dengan senyum penuh rasa syukur.