Rahasia Malam Seribu Bulan: Dosen UMY Ungkap Hikmah Lailatul Qadar

Talqis Nurdianto
Sumber :
  • DOK UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Ramadan selalu menghadirkan nuansa yang berbeda. Bulan penuh berkah ini bukan hanya menjadi ruang untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga momen refleksi bagi umat Islam. Di antara berbagai keistimewaan Ramadan, ada satu malam yang selalu dinanti: Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an lebih mulia daripada seribu bulan.

img_title Kasus Amsal Sitepu dan Bayang-Bayang Kriminalisasi Industri Kreatif

Talqis Nurdianto, dosen Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mengungkapkan bahwa Lailatul Qadar merupakan anugerah besar yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Malam ini, kata Talqis, memiliki nilai spiritual yang luar biasa karena setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.

“Allah SWT secara langsung menyebutkan dalam Surah Al-Qadr bahwa Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, satu malam tersebut nilainya dapat melampaui ibadah selama puluhan tahun,” jelasnya.

img_title Warga Yogya Borong barang di Pasar Murah Ramadan

Menurut Talqis, momentum ini seharusnya dimanfaatkan dengan memperbanyak ibadah: salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa. Bukan hanya ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Misteri Waktu Lailatul Qadar

img_title DPW PKB DIY Ramadan Journey “Hadirkan Cinta, Melukis Mimpi Bersama”

Sejumlah hadis Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil. Namun, tidak ada kepastian tanggal yang benar-benar pasti. Hal ini, menurut Talqis, justru menyimpan hikmah mendalam.

“Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk menghidupkan seluruh malam di akhir Ramadan dengan ibadah, agar tidak hanya berfokus pada satu malam tertentu saja,” ujarnya.

Beberapa riwayat memang menyebutkan tanda-tanda yang sering dikaitkan dengan datangnya Lailatul Qadar. Malam terasa tenang, udara sejuk, dan pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya lembut. Namun, Talqis menekankan bahwa tanda-tanda itu tidak bisa dijadikan patokan mutlak. Yang terpenting adalah kesungguhan dalam beribadah.

Mengapa Allah merahasiakan waktu pasti Lailatul Qadar? Talqis menjelaskan bahwa hal ini adalah bentuk pendidikan spiritual. Jika waktunya ditentukan secara pasti, manusia mungkin hanya akan beribadah sungguh-sungguh pada malam itu saja. Dengan dirahasiakan, umat Islam terdorong untuk konsisten meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.

Halaman Selanjutnya
img_title