UGM Dorong PIAT Jadi Laboratorium Hidup Pengelolaan Sampah Mikro
- Dok UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Pemerintah menegaskan komitmennya melalui arahan Presiden agar perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak inovasi pengolahan sampah.
Dukungan ini diperkuat oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Brian Yuliarto, yang juga sempat mengunjungi fasilitas pengolahan sampah di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT), mendorong kampus untuk menghadirkan solusi berbasis riset yang aplikatif. Menteri mengapresiasi UGM yang siap berkontribusi lebih luas dalam pengelolaan sampah skala mikro.
Dosen Teknik Kimia UGM Prof Ir Wiratni, sekaligus pemerhati lingkungan, menilai perguruan tinggi memiliki kapasitas teknologi yang memadai. Namun, ia menekankan bahwa teknologi bukan satu-satunya jawaban. Menurutnya, pengelolaan sampah harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, dengan mempertimbangkan dimensi sosial yang melekat pada setiap wilayah. Ia mencontohkan perbedaan kebutuhan antara Kota Yogyakarta yang padat dan Kabupaten Gunungkidul yang memiliki lahan lebih luas. Artinya, strategi pengolahan tidak bisa diseragamkan, melainkan harus kontekstual sesuai karakteristik daerah.
Di lingkungan kampus, UGM menghadapi timbulan sampah sekitar delapan ton per hari. Untuk mengatasi hal ini, ada tiga teknologi yang dinilai krusial. Pertama, sistem pemantauan timbulan sampah berbasis Internet of Things (IoT). UGM memasang timbangan digital di berbagai unit kerja, yang hasilnya ditampilkan melalui dashboard. Data ini menjadi cermin perilaku sivitas akademika sekaligus dasar kebijakan menuju zero waste campus. Kedua, pengolahan sampah organik melalui komposting dan budidaya maggot dengan rekayasa percepatan proses. Ketiga, pengolahan residu melalui pelelehan dan karbonisasi sehingga menghasilkan bahan konstruksi seperti papan, genteng, dan konblok, serta karbon untuk campuran pupuk. Pilihan ini dianggap lebih sesuai dengan volume sampah kampus yang belum memenuhi keekonomian skema waste-to-energy, sekaligus mendukung misi gaya hidup rendah karbon.
Penguatan teknologi tersebut terpusat di PIAT UGM melalui Rumah Inovasi Daur Ulang (RINDU). Fasilitas ini kini bergerak dari tahap eksperimen menuju instalasi berskala penuh yang mampu mengolah seluruh sampah kampus. Selain berfungsi sebagai layanan pengolahan, RINDU dikembangkan sebagai laboratorium hidup untuk pembelajaran ekosistem sirkuler. Konsep ini memungkinkan komunitas, pemerintah, dan sivitas akademika berkolaborasi dalam menginkubasi ide sebelum diterapkan lebih luas.