Sepotong Ketupat, Semangkuk Opor: Kisah Maaf yang Tak Pernah Usang
- VIVA Jogja/freepik
VIVA Jogja - Lebaran di Indonesia tak bisa dilepaskan dari kehadiran ketupat dan opor ayam. Namun di balik kelezatan dua hidangan khas ini, tersimpan makna filosofis yang dalam, bahkan disebut sebagai “bahasa simbolik” kehidupan oleh budayawan Jawa.
Ketupat bukan hanya makanan berbahan dasar beras yang dibungkus janur, melainkan representasi perjalanan batin manusia. Dalam tradisi Jawa, istilah ketupat kerap dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan.
Nilai ini menjadi inti dari perayaan Idulfitri, yakni momentum untuk saling membuka hati dan memaafkan. Anyaman janur yang membungkus ketupat juga bukan tanpa arti. Kerumitan pola anyaman mencerminkan kompleksitas hidup manusia—penuh kesalahan, relasi sosial yang rumit, hingga konflik yang tak jarang sulit diurai.
Namun, ketika ketupat dibuka, bagian dalamnya yang putih bersih menjadi simbol bahwa keruwetan hidup sejatinya bisa diselesaikan. Filosofi ini sejalan dengan ungkapan Jawa, “Sejatine urip iku ruwet, nanging iso dirampungi,” yang berarti hidup memang rumit, tetapi dapat diselesaikan dengan niat baik dan keikhlasan.
Janur sendiri dimaknai sebagai “nur” atau cahaya, yang melambangkan petunjuk menuju kebaikan. Ajaran ini tak lepas dari peran Sunan Kalijaga, yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyampaikan nilai-nilai Islam. Ketupat bahkan dikaitkan dengan konsep “laku papat” yang mencakup empat tahap kehidupan: Lebaran (selesai berpuasa), Luberan (berbagi rezeki), Leburan (melebur dosa), dan Laburan (kembali suci).
Tradisi ini juga diperkuat dengan adanya perayaan Bakda Kupat, yakni sepekan setelah Idulfitri, yang dimaknai sebagai penyempurna silaturahmi. Momentum ini menjadi pengingat bahwa memaafkan bukan sekadar seremoni, tetapi proses yang terus dijaga.
Sementara itu, opor ayam yang selalu hadir berdampingan dengan ketupat memiliki filosofi yang melengkapi. Dalam tafsir budaya Jawa, kata “opor” kerap dihubungkan dengan “ngapura” atau memberi maaf. Hal ini menegaskan bahwa Lebaran adalah ruang rekonsiliasi sosial.
Kuah santan yang gurih dan lembut melambangkan harmoni dalam kehidupan. Berbagai rempah yang menyatu di dalamnya menggambarkan keberagaman rasa dalam hidup—manis, pahit, hingga gurih—yang harus dijalani dengan kesabaran. Ayam, terutama ayam kampung, mencerminkan nilai kesederhanaan yang dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.