UGM dan Ewindo Perkuat Konservasi Benih Lokal untuk Ketahanan Pangan
- Dok UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Bersama PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan komitmen mereka dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan nasional. Melalui penandatanganan piagam kerja sama di Gedung Pusat Balairung, kedua pihak sepakat mengembangkan Bank Sumber Daya Genetik Sayuran sebagai upaya konservasi plasma nutfah tanaman lokal. Langkah ini dinilai strategis di tengah ancaman krisis iklim, degradasi lahan, serta berkurangnya keanekaragaman hayati yang semakin nyata.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menekankan pentingnya penguatan sektor hulu melalui konservasi genetik. Menurutnya, benih unggul tidak hanya menjadi fondasi produksi pangan, tetapi juga berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat dalam mengolah dan mengonsumsi hasil pertanian. Dengan memahami rantai pasok dari sumber, kualitas dan gizi komoditas dapat lebih terjamin. “Sumber daya genetik tanaman perlu kita lestarikan bersama-sama agar sistem pangan berkelanjutan bisa terwujud,” ujarnya.
Presiden Direktur Ewindo, Glenn Pardede, menambahkan bahwa rekayasa genetika merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan Indonesia. Kolaborasi riset dengan perguruan tinggi membuka peluang besar untuk menghasilkan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim dan relevan dengan kebutuhan masa depan. “Kerja sama ini bukan hanya untuk riset akademis, tetapi juga untuk inovasi yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh petani dan masyarakat,” katanya.
Kerja sama UGM dan Ewindo sendiri bukan hal baru. Sejak 2018, kedua pihak telah menjalin kolaborasi yang berfokus pada pengumpulan dan dokumentasi benih lokal. Hingga awal April 2026, lebih dari 2.000 plasma nutfah berhasil dikoleksi dari berbagai wilayah Indonesia. Koleksi tersebut mencakup beragam jenis sayuran seperti tomat, timun, wortel, pare, terong, seledri, paprika, labu, okra, cabai, dan komoditas lain yang mencerminkan kekayaan biodiversitas Nusantara. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia memiliki potensi genetik yang luar biasa untuk dikembangkan.
Prospek kerja sama ini juga akan diperluas dengan melibatkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa akan dilatih mengenai teknik pengumpulan benih sesuai standar operasional prosedur, sehingga dapat mendokumentasikan sumber daya genetik di wilayah yang belum banyak dijangkau. Dengan cara ini, proses konservasi tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga riset, tetapi juga melibatkan generasi muda sebagai agen pelestarian.