Hari Peduli HIV & AIDS Nasional 10 April, Berani Peduli, Berani Setia: Lawan HIV dengan Empati, Bukan Stigma

Ilustrasi simbol pita merah sebagai lambang solidaritas terhadap penyintas HIV/AIDS, sekaligus ajakan untuk menghentikan diskriminasi
Sumber :
  • istimewa

VIVA Jogja  – Peringatan Hari Peduli HIV & AIDS Nasional setiap 10 April kembali menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap bahaya HIV sekaligus menguatkan nilai empati kepada para penyintas.

img_title Senyum Dibalik Perjuangan Tak Kenal Lelah, JKN Menjadi Penjaga Harapan Para Penyintas Penyakit Kronis

Di tengah kemajuan pengobatan, tantangan terbesar saat ini justru masih berkutat pada stigma dan diskriminasi yang belum sepenuhnya hilang.

Secara historis, HIV (Human Immunodeficiency Virus) pertama kali diyakini berasal dari virus yang menyerang simpanse di Afrika Barat sekitar tahun 1930-an, sebelum akhirnya menular ke manusia.

img_title Hantavirus Strain Andes, kenali Risiko dan Pencegahannya

Virus ini kemudian menyebar secara global dan mulai teridentifikasi luas pada awal 1980-an, ketika berbagai penyakit langka muncul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia.

Hingga kini, HIV masih menjadi persoalan kesehatan dunia. Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNAIDS menunjukkan bahwa sekitar 40,8 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia pada tahun 2024. Selain itu, terdapat sekitar 1,3 juta infeksi baru dan 630 ribu kematian terkait AIDS dalam satu tahun terakhir.

img_title Petani Tembakau Resah Jelang Musim Tanam, Regulasi Tar–Nikotin Dinilai Ancaman

Di Indonesia sendiri, situasinya juga masih menjadi perhatian serius. Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah orang dengan HIV (ODHIV) pada tahun 2025 mencapai sekitar 564 ribu orang. Namun, baru sekitar 63 persen yang mengetahui statusnya, dan sebagian masih belum mendapatkan pengobatan optimal.

Meski demikian, perkembangan dunia medis memberikan harapan besar. Penemuan terapi antiretroviral (ARV), termasuk obat seperti Lamivudine (3TC), telah menjadi terobosan penting dalam pengobatan HIV.

Terapi ini mampu menekan jumlah virus dalam tubuh hingga tidak terdeteksi (viral suppression), sehingga risiko penularan dapat ditekan mendekati nol dan kualitas hidup pasien meningkat signifikan.

Namun, peringatan Hari Peduli HIV & AIDS Nasional tidak hanya berbicara tentang pengobatan, tetapi juga tentang perubahan perilaku dan cara pandang masyarakat. Salah satu pesan moral utama yang terus digaungkan adalah pentingnya menjaga kesetiaan dalam hubungan sebagai langkah preventif paling efektif dalam mencegah penularan HIV.

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk menjauhi prasangka buruk terhadap para penyintas. Stigma sosial sering kali membuat mereka enggan memeriksakan diri atau melanjutkan pengobatan. Padahal, HIV tidak menular melalui interaksi sosial biasa seperti berjabat tangan, berbagi makanan, atau berdekatan.

Halaman Selanjutnya
img_title