Festival Pasar Blumbang Wirokerten: UMY Teguhkan Pengabdian Berkelanjutan untuk Desa Wisata

Mahasiswa UMY di Festival Pasar Blumbang Wirokerten
Sumber :
  • Dok UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menegaskan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui Festival Pasar Blumbang Mataram yang digelar di Kalurahan Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Ahad (12/04). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Masyarakat Skema Desa Binaan yang telah berjalan sejak 2022 dan menjadi wujud nyata pengabdian berkelanjutan kampus terhadap masyarakat.

img_title Optimisme Kerja Menurun, Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

Festival Pasar Blumbang bukan sekadar agenda seremonial, melainkan hasil dari proses pendampingan panjang yang dilakukan oleh tim dosen lintas disiplin di bawah koordinasi Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY. Kepala Subdirektorat Pengabdian Mahasiswa UMY, Dr. Al Afik, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengawal Wirokerten menuju desa wisata hingga ke level desa budaya di tingkat provinsi. Pendekatan multidisipliner yang melibatkan 11 dosen dari bidang sosial-politik, hukum, ekonomi, kesehatan, hingga literasi digital menjadi fondasi pengembangan desa secara komprehensif. Tidak hanya sektor pariwisata yang disentuh, tetapi juga regulasi, pemberdayaan UMKM, serta peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Carik Wirokerten, Rini Widya, S.Pd., menuturkan bahwa selama empat tahun pendampingan, masyarakat telah merasakan dampak nyata. Salah satu capaian penting adalah penetapan Wirokerten sebagai desa rintisan budaya pada 2024. Ia menambahkan, lahirnya Pasar Blumbang Mataram menjadi bukti konkret keberhasilan program. Pasar ini kini menampung sekitar 40 hingga 50 pelaku UMKM, mulai dari kuliner tradisional hingga kerajinan tangan, yang menjadikan Wirokerten semakin dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi kreatif.

img_title Kekeringan DIY Kian Parah, Perubahan Iklim Jadi Pemicu Krisis Air Bersih

Lebih dari sekadar ruang jual beli, Pasar Blumbang dirancang sebagai wadah integrasi budaya, ekonomi, dan edukasi masyarakat. Dosen pembimbing desa wisata, Sakir Ridho Wijaya, S.IP., M.IP., menegaskan bahwa konsep pasar ini menggabungkan potensi lokal dengan kegiatan sosial. Setiap 35 hari sekali, pasar digelar dengan kemasan atraktif berupa pertunjukan seni, olahraga, hingga susur budaya. Panitia juga mulai menginisiasi pengurangan penggunaan plastik sebagai bagian dari komitmen lingkungan berkelanjutan.

Namun, perjalanan menuju desa wisata mandiri tidak lepas dari tantangan. Sakir mengakui bahwa kesinambungan kebijakan dan komitmen pengelola masih menjadi pekerjaan rumah. Perubahan kebijakan dari pusat hingga daerah kerap memengaruhi alokasi anggaran desa, sehingga inovasi dan kolaborasi menjadi kunci agar program tidak stagnan. Selain itu, aspek keberlanjutan sumber daya manusia juga perlu diperhatikan, mengingat sebagian besar pengelola masih bekerja secara sukarela tanpa dukungan finansial tetap. “Kalau tidak ada komitmen bersama dan kolaborasi yang kuat, desa bisa stagnan. Ini yang harus terus dijaga,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Dugaan Pelecehan di Lingkungan Kampus, UMY Tegaskan Komitmen Cegah dan Tangani