Kartini dan Imajinasi Ruang Sosial: Refleksi Prof. Mutiah Amini dalam Pengukuhan Guru Besar UGM

Prof Dr Mutiah Amini
Sumber :
  • Dok UGM

SLEMAN, VIVA Jogja – Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, 2026, Universitas Gadjah Mada mengukuhkan Prof Dr Mutiah Amini, sebagai Guru Besar dalam Bidang Sejarah Sosial Perkotaan, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya. Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Sejarah dan Imajinasi Warga tentang Ruang Sosial Perkotaan”, Mutiah menyingkap progresivitas pemikiran Kartini yang jauh melampaui zamannya, khususnya dalam melihat pembangunan kota dan modernisasi dari sudut pandang rakyat.

img_title UGM Hidupkan Semangat Tradisi Lewat Festival Karawitan dan Bazar Nusantara

Mutiah menegaskan bahwa Kartini tidak hanya menulis surat-surat yang berisi gagasan emansipasi perempuan, tetapi juga merekam peristiwa sosial yang terjadi di sekitarnya. Tulisan Kartini menjadi ekspresi kultural yang hidup, memantik dialog panjang, sekaligus menjadi alat untuk mengamati perubahan ruang sosial perkotaan. Ia bahkan mempertanyakan risiko pembangunan yang sering kali tidak dipikirkan secara komprehensif, seperti kecelakaan dan kriminalitas, jauh sebelum hadirnya sistem kesehatan modern seperti BPJS atau layanan ambulans.

Dalam pidatonya, Mutiah menyoroti kebijakan desentralisasi wilayah pada awal abad ke-20 melalui pembangunan gementee atau kotapraja. Kebijakan ini, menurutnya, justru memperlihatkan sentralisasi karena lokasi strategis lebih banyak ditentukan oleh jumlah komunitas Eropa. Akibatnya, konsep kenyamanan yang diciptakan pemerintah kolonial tidak dapat dijangkau seluruh penduduk kota. Pemerintah memang menerapkan program kampoengverbetering atau penataan kampung, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Kondisi ini mendorong masyarakat menciptakan ruang baru dengan membangun perkampungan di tengah kota atau mendirikan rumah di bantaran sungai.

img_title Anak Pedagang Ikan Keliling Raih UKT Nol dan Resmi Jadi Mahasiswa Psikologi UGM

Mutiah juga menyinggung kolonisasi ruang yang melahirkan segregasi antara ruang publik dan ruang privat. Pemerintah kolonial menyusun sosialisasi yang menyerupai propaganda hidup sehat, seperti menjaga kebersihan kamar mandi, dapur, dan ruang rumah lainnya. Namun, propaganda ini justru memperbesar beban pekerjaan perempuan. Bagi keluarga elit kota, penciptaan lingkungan sehat lebih mudah karena mereka dibantu jongos dan babu. Sebaliknya, kelas sosial lain membebankan seluruh pekerjaan domestik kepada perempuan, sehingga memperkuat ketimpangan sosial sekaligus gender.

Lebih jauh, Mutiah menekankan pentingnya imajinasi kolektif warga non-elit dalam membentuk ruang sosial perkotaan yang estetik, harmoni, dan sehat. Imajinasi ini muncul dalam berbagai ekspresi, mulai dari kritik di media massa, cerita bergambar, puisi, hingga lagu. Namun, bentuk ekspresi tersebut lebih banyak digunakan oleh kelas menengah ke atas. Sementara itu, masyarakat miskin kota menunjukkan imajinasi kolektif mereka dengan cara menduduki ruang-ruang publik yang tersedia, menjadikannya arena hidup sekaligus simbol perlawanan terhadap keterbatasan ruang.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Dosen UGM Terima Ancaman Usai Kritik Pejabat, Kampus Siapkan Pendampingan Hukum