Dosen UMY Dampingi Semoyo Wujudkan Desa Wisata Herbal Berkelanjutan
- Dok UMY
GUNUNGKIDUL, VIVA Jogja - Kalurahan Semoyo di Kabupaten Gunungkidul kembali mencuri perhatian dengan potensi wisata berbasis edukasi herbal yang dimilikinya. Sentra jahe dan kunyit yang telah lama menjadi kekuatan lokal masyarakat dinilai mampu menjadi fondasi pengembangan desa wisata berkelanjutan. Namun, potensi besar tersebut tidak akan maksimal tanpa adanya kelembagaan yang kuat sebagai penggerak utama. Tantangan kelembagaan inilah yang kemudian mendorong hadirnya program pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mendampingi masyarakat Semoyo.
Muhammad Eko Atmojo, S.IP., M.IP., dosen Ilmu Pemerintahan UMY, melaksanakan program bertajuk Melembagakan dan Mensinergikan Desa Wisata Berkelanjutan pada Minggu (24/6) lalu di Kalurahan Semoyo. Dalam keterangannya kepada Humas UMY, Jumat (29/5), Eko menegaskan bahwa Semoyo memiliki potensi kuat di bidang wisata edukasi herbal. “Kalurahan Semoyo memiliki potensi yang cukup kuat di bidang wisata edukasi herbal. Di sana sudah terbentuk sentra jahe dan kunyit yang menjadi kekuatan lokal masyarakat. Potensi seperti ini sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi desa wisata berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, pengembangan desa wisata Semoyo sebelumnya sempat mengalami stagnasi. Lembaga pengelola pariwisata yang sudah terbentuk tidak lagi aktif sehingga arah pengelolaan wisata menjadi tidak jelas. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan mendesak untuk penyegaran organisasi, termasuk pembentukan ulang struktur pengurus desa wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Menurut Eko, desa wisata tidak cukup hanya memiliki potensi, tetapi juga membutuhkan lembaga yang mampu mengelola dan menggerakkan masyarakat. Karena itu, pendampingan yang dilakukan difokuskan pada penguatan kelembagaan, mulai dari pemahaman tata kelola hingga pembentukan kembali Pokdarwis agar pengembangan wisata dapat berjalan lebih terstruktur.
Program pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui sosialisasi mengenai peraturan gubernur terbaru terkait kelembagaan desa wisata. Tim pengabdian juga mendampingi proses pembentukan kembali Pokdarwis sebagai motor penggerak pengelolaan wisata di Semoyo. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 20 calon pengurus dan masyarakat yang nantinya akan terlibat langsung dalam pengembangan desa wisata. Antusiasme peserta terlihat jelas, mereka mulai menyusun rencana pembentukan pengurus baru sekaligus mengidentifikasi potensi utama yang bisa dikembangkan dalam sektor wisata. “Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka bahkan mulai menyusun rencana pembentukan pengurus Pokdarwis baru dan mengidentifikasi potensi utama yang bisa dikembangkan dalam sektor wisata. Ini menjadi langkah awal yang baik untuk membangun desa wisata yang lebih hidup dan berkelanjutan,” pungkas Eko.